Menakar New Normal Desa
PANDEMI Covid-19 berdampak luar biasa dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia.
Hingga 13 Juni 2020, sebagaimana dirilis media, Bantuan langsung tunai (BLT) Dana Desa 2020 yang terserap masyarakat terdampak pandemi corona atau Covid-19 hampir mencapai Rp7 triliun, dibagikan kepada sekitar 7 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.
Dana Desa juga digunakan untuk pencegahan stunting atau kekurangan gizi kronis, baik dalam bentuk kegiatan pelayanan peningkatan gizi keluarga di Posyandu berupa penyediaan makanan bergizi untuk ibu hamil, ibu menyusui dan Balita. Juga untuk kegiatan penyediaan sarana air bersih, sanitasi keluarga dan penyuluhan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat).
Terkait realisasi jumlah Relawan Covid-19 di Desa, sebagaimana rilis media bulan lalu mencapai 1,7 Juta Orang. Struktur Relawan Desa Lawan Covid-19 terdiri dari Ketua Kepala Desa, Wakil Ketua Ketua BPD, Anggota terdiri dari Perangkat Desa, Anggota BPD, Ketua RT/RW, Tokoh masyarakat, Pendamping PKH, Bidan Desa, dan Pendamping Desa di Desa alias PLD. Mitra Kerja terdiri dari Babinkamtibmas, Babinsa dan Pendamping Desa tingkat Kecamatan.
Kinerja Tim Relawan Desa Lawan Covid-19 selama ini dinilai efektif karena selain mendirikan Posko-posko di berbagai tempat strategis untuk memantau keluar masuknya warga di Desa, juga intens melakukan sosialisasi tentang pencegahan penyebaran Covid-19 di Desa dengan berbagai cara inovatif, kreatif dan efektif. Selain itu juga mendirikan Tempat Isolasi Desa, dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki Desa, seperti Balai Desa dan Sekolah-sekolah, dan Tim terus berkoordinasi dengan Tim Medis di Puskesmas, RS Rujukan di Daerah, Dinkes dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).
Potret ini semakin membuat Gus Menteri optimis, apabila penanganan pandemi di desa begitu sistematis dan massif, berfokus pada penguatan protokol kesehatan, pembatasan fisik dan imunitas, maka akan berdampak signifikan terhadap penyelesaian Covid-19 di tingkat nasional yang dimulai dari Desa. Kurva R0 (Indeks Penularan Covid-19) betul-betul bisa diturunkan berskala Desa.
Kedua, Potret Era New Normal Desa sebagai basis penerapan kebijakan nasional.
Takaran di atas menunjukkan bahwa Desa sejatinya dinilai siap melaksanakan kebijakan Era New Normal. Lingkup ini menjadi tolok ukur penting dalam melihat skala yang lebih besar lagi, yakni tingkat Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi.
Hal ini dapat dibuktikan pada awal bulan lalu, seperti disampaikan dalam rilis media, negara sudah siap-siap terapkan New Normal, sembari terus berupaya menekan angka penyebaran virus Covid-19 di tiga Provinsi, yakni Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.
Karenanya, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada jajarannya untuk berkonsentrasi memerangi wabah corona di sejumlah provinsi yang dianggap angka penyebarannya masih terlampau tinggi.
Terkait ini, gerakan New Normal, mau tak mau dimulai dari lingkup paling kecil, yakni Desa. Dari Desa, tatanan kehidupan baru dapat efektif dimulai. Petani, pekebun, peternak, pedagang kecil di pasar dan nelayan pun siap beraktivitas dengan tetap menaati protokol kesehatan. Roda ekonomi kembali bergerak dan daya beli masyarakat pun kembali meningkat.
Bersamaan itu, kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti pengajian, arisan, perkumpulan warga di tingkat RT/RW dan kegiatan lainnya juga berjalan dengan tetap disiplin protokol kesehatan.
Hal penting lainnya adalah sarana kesehatan yang dibutuhkan oleh puskesdes alias pusat kesehatan Desa maupun posyandu, seperti APD, hand sanitizer, masker dan disinfektan serta vitamin dan obat-obatan perlu terus dipenuhi. SDM medis dan kader kesehatan juga mutlak dipenuhi dengan baik. Ini semua telah menjadi kebutuhan dasar di Era baru ini.
Selain itu, kerjasama dan sinergitas para pihak, terutama Perguruan Tinggi, LSM, Ormas dan Perusahaan Swasta yang memiliki concern pada pengembangan masyarakat Desa dengan Stakeholder terkait, termasuk Pendamping Desa tentunya terus dinantikan peran mereka. Sinergitas ini bukan hanya terkait dengan pengembangan bidang kesehatan, namun juga bidang ekonomi, sosial dan budaya yang akan menopang kemajuan Desa menyongsong Era New Normal.
Potret potensi Desa, baik pariwisata, pertanian, perkebunan, peternakan, agrobisnis, home industri yang berbasis teknologi digital menjadi kebutuhan penting untuk dikembangkan. Pemanfaatan media massa, radio komunitas dan media sosial sebagai jejaring sosial, promosi dan pemasaran menjadi tak terbantahkan lagi.
Dengan cara inilah, kita optimis Era New Normal Desa sebagai poros utama gerakan New Normal di Indonesia dapat terlaksana dengan sukses. Rakyat sehat, ekonomi bangkit dan bangsa menjadi maju. (*/rls)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/muh-arwani-ok.jpg)