Jenderal Haftar Tertipu Tentara Bayaran dan Makelar Senjata Asing
Ia kehilangan tak kurang 35 juta dolar AS untuk pembelian aneka peralatan militer yang tidak pernah berwujud sampai hari ini.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM, LONDON – Media Inggris, The Independent, membuat liputan mendalam, mengulas kisah gelap di balik perang saudara brutal di Libya.
Temuannya antara lain, pemimpin kelompok politik bersenjata Libyan National Army (LNA) Marsekal Khalifa Haftar, tertipu puluhan juta dolar AS dari makelar senjata asing.
Ia kehilangan tak kurang 35 juta dolar AS untuk pembelian aneka peralatan militer yang tidak pernah berwujud sampai hari ini.
Publikasi laporan panjang itu ditulis jurnalis mereka, Bel Trew, diunggah di laman Independent.co.uk, Kamis (11/6/2020).
• Mesir Kirim Tank ke Perbatasan Libya, Rusia Lipatgandakan Dukungan ke Pasukan Haftar
Para makelar senjata dan agen tentara bayaran asing itu berasal dari Inggris, Afrika Selatan, Australia, dan Amerika.
Mata rantai bisnis gelap ini rumit, melibatkan banyak perusahaan di berbagai negara di Eropa, Afrika, dan Timur Tengah.
Laporan ini muncul bersamaan kemunduran mengejutkan pasukan LNA dari Tripoli dan kota-kota sekitarnya akibat gempuran rivalnya, kelompok General National Accord (GNA).
GNA mendapatkan dukungan penuh pasukan Turki, yang mengerahkan prajurit tempur, armada udara dan laut.
Dua pekan lalu, GNA merebut pangkalan udara Al Watiya dekat perbatasan Libya-Tunisia. Pangkalan ini semula jadi basis LNA dan konon pasukan bayaran Wagner dari Rusia.
• Pasukan Jenderal Haftar Siapkan Serangan Pamungkas untuk Merebut Ibukota Tripoli
The Independent menunjukkan serangkaian rekaman video dari pangkalan dan basis-basis pertahanan LNA yang direbut GNA.
Banyak peralatan perang darat, helikopter, artileri pertahanan udara Pantsjir S1 dari Rusia, serta pesawat tempur ditinggalkan begitu saja oleh pasukan LNA.
Seiring kemunduran itu, Khalifa Haftar yang didukung Mesir, Uni Emirat Arab, dan Rusia, kini berada di Kairo. Ia menyerukan solusi damai diawali gencatan senjata di Libya.
Mengutip sumsber-sumbernya di kalangan diplomatik dan orang-orang yang terlibat dalam transaksi gelap di masa lalu, bukan hanya kekalahan militer yang telah menghabiskan banyak uang dan aset CIA ini.
Jenderal purnawirawan berusia 76 tahun itu lama tinggal di Langley, di masa kekuasaan Moamar Khadafi.
• Pasukan Haftar Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur Seterunya di Misrata Libya
Ia dilaporkan telah kehilangan lebih dari 55 juta dolar AS atau 43 juta Poundsterling selama perang.
Ia pernah memesan helikopter serbu, pesawat pengintai, dan kapal patroli lepas pantai lewat agen asing. Uang sudah dibayarkan, tetapi pesanannya tidak pernah ada wujudnya.
PBB juga telah merilis laporan perihal konflik di Libya. Laporan-laporan tersebut menjelaskan Libya dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi palagan perang yang sangat kompleks.
Tempat tentara bayaran dan proxy internasional berkeliaran. Embargo senjata yang diterapkan PBB tidak ada artinya.
Turki mengirim pasukan, menerbangkan milisi Suriah, pesawat tempur, kendaraan militer dan sistem anti-pesawat ke GNA yang berbasis di Tripoli.
• Jenderal Haftar Minta Rusia Dirikan Pangkalan di Libya
Rusia dan UEA juga melakukan hal sama. Memasok senjata dan peralatan tempur, termasuk Mesir. Pihak-pihak yang disebut membantah tuduhan itu.
Kubu Haftar, juga membantah laporan ini. Kepada The Independent, seorang komandan operasi LNA mengatakan, klaim itu propaganda yang disebarkan GNA.
Penyelidikan rahasia PBB baru-baru ini melaporkan kehadiran tim terdiri dari 20 tentara bayaran asing, termasuk lima warga Inggris (dua dari mereka mantan Marinir Kerajaan), 12 warga Afrika Selatan, dua warga Australia, dan seorang Amerika di Libya.
Mereka dibayar lebih dari $ 120.000 setiap bulan. Mereka ditugaskan membuat blokade laut, guna mencegah pengiriman senjata dari Turki.
Selama pekerjaan tiga bulan, tim dilaporkan diharapkan untuk melacak dan mencari kapal-kapal pembawa senjata dari Turki.
Menurut dua sumber diplomatik yang mengetahui laporan Komite Sanksi Dewan Keamanan PBB pada Februari 2020, para prajurit bayaran itu kabur ke Malta pada Juni 2020.
Mereka menggunakan dua perahu karet kaku (RHIB), hanya beberapa hari setelah mendarat di Libya timur.
Di pulau itu, mereka secara singkat ditahan otoritas Malta yang mengatakan RHIB disewa oleh perusahaan Malta, Sovereign Charters.
Pemiliknya, James Fenech, didakwa pada April 2020 karena menyewakan kapal yang melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Libya.
Para diplomat mengatakan kepada The Independent, pertikaian terjadi antara kelompok itu dan Haftar, yang geram karena nilai perangkat keras dan layanan militer yang diberikan berjumlah sedikit lebih dari perkiraan $ 30 juta, dari $ 80 juta yang dibayarkan.
Para diplomat menambahkan, Haftar bersumpah akan membalas wanprestasi itu. Karena mengkhawatirkan nyawa mereka, kelompok itu akhirnya kabur meninggalkan Libya timur ke Malta.
Di sisi lain, penyelidikan PBB menemukan Jenderal Haftar telah menerima enam helikopter tua yang tidak ia inginkan, termasuk tiga heli Gazelle dan tiga Puma. Nilainya oleh penyelidik PBB diperkirakan tidak lebih 14 juta dolar AS.
Perjalanan pesawat terbang itu dari tangan terakhir pemiliknya membentang ribuan kilometer, melintasi benua Afrika.
Helikopter itu diduga dibeli di Afrika Selatan oleh jaringan perusahaan yang terkait dengan UEA dan diterbangkan ke Libya dari Botswana. Dokumen perjalanan menyebut tujuan akhirnya Yordania.
Menurut sumber itu, para penyelidik memperoleh dokumentasi kesepakatan itu seharusnya berisi helikopter serang Cobra yang lebih mahal, dan LASA T-Bird, pesawat pertanian yang diadaptasi untuk pengintaian.
Sumber diplomatik mengatakan perusahaan yang berbasis di Dubai, Lancaster 6 dan Opus, menurut penyelidik PBB, diduga membayar dan mengelola kesepakatan tersebut.
Juru bicara kelompok Lancaster 6 membantah tuduhan ini. Kepada The Independent, beberapa dokumen yang disebut bukan milik mereka.
Helikopter yang disebutkan dalam laporan itu terdaftar sebagai pesawat sipil, diidentifikasi sebagai "demiliterisasi" dan telah memasuki negara itu, setelah 20 individu yang disebutkan di dokumen penyelidikan telah pergi.
Mereka tidak mengomentari alasan untuk transfer helikopter dan hubungan mereka dengan itu, dugaan kekurangan $ 50 juta, atau sifat hubungan mereka dengan individu yang diidentifikasi sebagai tentara bayaran dalam penyelidikan PBB.
Juru bicara itu mengakui, "sekelompok orang yang disebutkan berada di Libya untuk waktu yang sangat singkat, sekitar 48 jam.
Mereka tidak melakukan apa-apa di sana. Justru kemudian merasa keselamatan pribadi terancam, lalu meninggalkan negara itu sebelum helikopter tiba di Libya.
"Kami bermaksud untuk menuntut dengan kuat segala tuduhan yang salah dan menyesatkan dan melindungi dari segala kerugian reputasi yang diderita," tulis Lancaster 6 dalam pernyataan mereka ke The Independent.
Konon, bukan kali ini saa Jenderal Haftar tertipu. Periode 2016 dan 2017, ia diduga membayar seorang pengusaha Amerika untuk membeli kapal patroli lepas pantai untuk menjaga perairan lepas timur Libya.
Tapi kapal itu tidak pernah dikirimkan. Seorang diplomat barat dan seorang karyawan perusahaan yang berbasis di UEA mengaku mengetahui kesepakatan itu.
Seorang pengusaha dari Texas dibayar lebih dari $ 6,5 juta oleh Haftar, terkait pembelian kapal patroli. Pengusaha itu mengontrak Excel International yang berbasis di UEA.
Perusahaan itu diminta melakukan perbaikan kapal pada awal 2016, termasuk penambahan helipad.
Namun, taipan Texas, yang The Independent telah memilih untuk tidak menyebutkan nama, tidak hanya gagal mengirimkan kapal ke pasukan Haftar, tetapi gagal membayar perusahaan Excel International.
Kapal itu ternyata dibeli dari kapal patroli penjaga pantai Mauritius. Pembelian itu bagian dari kesepakatan bisnis yang sah.
Seorang karyawan senior Excel mengatakan perusahaan tidak tahu Jenderal Haftar atau pemerintah Libya timur adalah pembeli sebenarnya.
Kesepakatan itu diatur atas nama perusahaan yang sudah tidak beroperasi, yang meminta kapal untuk diperbaiki dan dicat ulang sehingga dapat digunakan untuk melindungi kapal tanker minyak untuk klien di wilayah Timur Tengah.
Seorang karyawan senior Excel International mengatakan kepada The Independent, mereka awalnya dibayar sejumlah kecil pada 2016 tetapi masih berutang lebih dari $ 2 juta untuk perbaikan, pemeliharaan, gaji kru dan biaya.
The Independent menerima dokumen yang menunjukkan bukti transfer uang kecil dari individu Texas ke kapten kapal pada Desember 2016.
Setelah menghindari satu tahun tagihan, pengusaha akhirnya menghilang pada akhir 2017. Perusahaan yang berbasis di UEA menyimpannya. perahu dan menamainya.
"Meskipun ia berutang lebih dari $ 2 juta yang merupakan pukulan finansial yang signifikan, itu ternyata merupakan keberuntungan bagi kami ketika kami akhirnya menemukan tujuan sebenarnya dari kapal," kata karyawan itu.
Ia meminta untuk tidak disebutkan namanya karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media.
Karyawan itu menambahkan, mereka mulai khawatir ketika pembayaran ditunda. Mereka menerima panggilan telepon dari orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai kolega pemerintah Libya [Timur]".
Mereka mengetahui orang-orang Haftar itu menuntut untuk mengetahui kapan kapal akan disampaikan. Sesudahnya, beberapa perwira angkatan laut Libya terbang ke UEA.
Pengusaha Texas itu tidak membalas upaya berulang-ulang oleh The Independent untuk menghubunginya. Perusahaannya tidak lagi muncul di situs online.
Juru bicara Khalifa Haftar tidak menjawab permintaan The Independent untuk berkomentar. Salah satu pembantunya dengan tegas membantah tuduhan hal ihwal kedua perjanjian itu.
Ia memberi tahu The Independent, mereka dibohongi Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA), teroris dan Ikhwanul Muslimin, kelompok Islamis yang menentang pasukannya.
Panel ahli PBB melaporkan tahun lalu, pada Mei 2018, pasukan Haftar pada akhirnya dapat memperoleh kapal patroli lepas pantai yang berbeda, yang kemudian dinamai “Al Karama”, atau “martabat’.
Kali ini kapal itu berhasil dibeli melalui perusahaan UEA yang berbeda bernama Universal Satcom Services, yang melanggar embargo senjata karena diklasifikasikan sebagai kapal angkatan laut.
Sejak dipindahkan ke Libya, laporan PBB mengatakan Al Karama telah dilengkapi dengan sistem senjata termasuk satu meriam 40 mm dan dua meriam 20 mm.
Jenderal Haftar telah lama dituduh menerima dukungan dari kekuatan asing yang melanggar embargo senjata PBB dalam upayanya untuk memperkuat kekuasaan di negara yang dilanda perang.
Pasukannya, yang menguasai wilayah timur dan selatan Libya yang luas, melancarkan operasi untuk merebut Tripoli sejak April lalu.
Setelah kemajuan awal, pasukan LAAF telah menderita serangkaian kemunduran militer signifikan beberapa bulan terakhir.
Terutama setelah Turki mengirim pasukan, logistik, dan bantuan udara untuk meningkatkan kemampuan tempur GNA di ibukota Libya.
Di sisi lain, Komando Militer AS di Afrika pekan lalu mengumumkan, Rusia menerbangkan pesawat tempur MiG 29 dan SU-24 ke pangkalan udara Libya timur.
Usaha ini dilakukan untuk menopang Haftar, sekaligus melindungi kelompok tentara bayaran Wagner. Mesir juga telah mengirimkan puluhan tanknya ke perbatasan Libya.(Tribunjogja.com/Indepen dent.co.uk/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jenderal-haftar-klaim-tembak-jatuh-pesawat-turki.jpg)