Segerombolan Monyet Curi Sampel Darah Pasien Covid-19 di India
"Monyet mengambil dan melarikan diri dengan sampel darah dari empat pasien covid-19 yang sedang menjalani perawatan. Kami harus mengambil sampel darah
Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
"Harapannya adalah penguncian akan dapat mencegah penularan, tetapi jelas itu tidak terjadi," kata Direktur Eksekutif Institut Kesehatan Global George, India Vivekanand Jha.
Penguncian tak efektif tekan penyebaran
Awal tahun ini, para ahli kesehatan memperingatkan akan bahaya yang ditimbulkan oleh virus corona pada negara-negara berkembang seperti India.
Penguncian tak bisa berjalan maksimal di daerah yang penduduknya banyak dan bergantung pada upah harian untuk bertahan hidup, daerah kumuh yang padat, serta sistem perawatan kesehatan yang minim sumber daya.
"Sistem perawatan kesehatan negara-negara ini akan diuji dengan sangat buruk. Sangat mungkin bahwa dalam banyak kasus mereka tidak akan dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Jika itu masalahnya, kita akan melihat penderitaan dalam jumlah besar," kata Jha.
Angka infeksi di India meningkat pada laju tercepat di Asia seiring pelonggaran penguncian oleh Perdana Menteri Narendra Modi.
Sebelumnya, India mengalami pukulan ekonomi terberat dalam 40 tahun terakhir akibat penguncian nasional.
Penguncian yang bertujuan untuk memberi negara lebih banyak waktu dalam membangun sistem perawatan kesehatan, meningkatkan pengujian, dan mengidentifikasi kasus baru, tak sesuai harapan.

Populasi India yang begitu besar membuat upaya-upaya itu hanya mencakup sebagian kecil penduduk.
Rumah Sakit Max Super Speciality New Delhi, tempat perawatan Covid-19 terbesar di kota itu saat ini memiliki sekitar 200 pasien.
"Kami mendapatkan semakin banyak orang setiap hari baik dalam jumlah maupun dalam keparahan penyakit. Kami belum melihat tanda akan berakhir," kata Direktur Bagian Perawatan Kritis Rumah Sakit, Arun Dewan.
Di sekelilingnya, keheningan rumah sakit terpecahkan oleh suara mesin berbunyi dan batuk pasien yang sebagian besar hanya dipisahkan oleh tirai putih.
Beberapa bulan yang lalu, tangisan bayi masih sering menggema di rumah sakit ini. Akan tetapi, dengan jumlah kasus virus corona yang terus melonjak, seluruh gedung rumah sakit tersebut kini digunakan untuk pasien Covid-19.
Menurut Dewan, kondisi ini adalah pertama kali dalam 35 tahun kariernya. Ia merasa takut dengan kemungkinan terburuk yang belum datang.
"Ini menjadi tantangan besar bagi tenaga medis. Kami telah mencapai batasnya," jelas dia.
Meski demikian, ada kemenangan kecil yang membuat staf medis tetap maju.
Bagi Steena, seorang dokter yang bekerja di ICU, salah satu momennya adalah ketika seorang wanita berusia 70 tahun dengan kondisi sangat buruk, pulih dalam beberapa minggu terakhir.
"Setelah tujuh atau delapan hari, ia dibawa keluar dari ventilator dan dinyatakan negatif," kata Steena.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul