Keluar Traktat Langit Terbuka, AS Akan Kembangkan Operasi Tempur Luar Angkasa
Keluar Traktat Langit Terbuka, AS Akan Kembangkan Operasi Tempur Luar Angkasa
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Hari Susmayanti
Efektif sejak 2002, perjanjian itu saat ini melibatkan 35 negara, termasuk Rusia dan AS. Traktat ini dianggap satu di antara landasan mekanisme kontrol senjata global, guna mengurangi kemungkinan pecahnya konflik militer akibat kurangnya transparansi.
"Rusia tidak mematuhi perjanjian itu," kata Trump kepada wartawan dalam perjalanan ke Michigan. Dia menambahkan AS dapat kembali ke perjanjian, atau menegosiasikan isu-isu baru dengan Moskow, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Saya pikir kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Rusia, tetapi Rusia tidak mematuhi perjanjian itu, dan sampai mereka mematuhi perjanjian itu, kami akan mundur," kata Donald Trump.
Tuduhan Trump ini langsung dibantah Wamenlu Rusia, Alexander Grushko.
Dia mengatakan tak ada yang bias mencegah diskusi masalah teknis yang diklaim AS. Baginya, penarikan AS itu pada akhirnya merugikan kepentingan negara-negara Eropa yang menjadi anggota NATO.
Pernyataan Trump ini melanjutkan langkah baru Washington menentang atau ingkar sederet perjanjian internasional yang bisa membahayakan keamanan internasional.
Dalam sebuah pernyataan tertulis, Menlu AS Mike Pompeo mengatakan AS dapat mempertimbangkan kembali penarikannya selama periode pemberitahuan enam bulan jika Rusia kembali menaati perjanjian.
• Pesan Terakhir Pilot Pesawat yang Jatuh di Kawasan Permukiman Penduduk di Pakistan
Dengan memulai periode pemberitahuan enam bulan sekarang, pemerintah Washington memastikan, bahkan jika Donald Trump kalah dalam Pilpres November, AS akan meninggalkan perjanjian sebelum pemerintahan Biden berkuasa.
Scott Ritter, mantan Marinir AS yang pakar bidang intelijen militer lewat laman Ron Paul Institute mengritik tajam langkah Trump ini.
Ia menyebut Trump melanjutkan sikap narsismenya. “Alasan sebenarnya untuk keputusan pemerintah Trump menarik diri dari OST terletak pada narsisme ganas Presiden Trump,” kata Ritter.
Trump juga dianggap tidak suka pada perjanjian internasional yang berfungsi mengontrol pengembangan industri senjata.
Menurut Scott Ritter, Gedung Putiih membesar-besarkan ketidakpatuhan Rusia yang sebagian besar dibuat untuk membenarkan keputusannya.
Trump sebelumnya menarik diri dari perjanjian Intermediate Nuclear Forces (INF) pada Agustus 2019, dan juga menolak keras untuk memperpanjang perjanjian START Baru, yang dijadwalkan akan berakhir pada Februari 2021.
Perjanjian terakhir ini membatasi pengembangan senjata nuklir strategis oleh AS maupun Rusia. Pada Mei 2018, Presiden Trump juga menarik diri dari perjanjian nuklir Iran, yang didorong pendahulunya, Barack Obama.(Tribunjogja.com/TASS/ RussiaToday/Guardian/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/keluar-traktat-langit-terbuka-as-akan-kembangkan-operasi-tempur-luar-angkasa.jpg)