5,549 Pendatang dari Luar DIY Sudah Masuk ke Bantul, Ini Rincian Jumlahnya Per Kecamatan

Kabupaten Bantul hingga Senin 18 Mei 2020 sudah kedatangan sebanyak 5,549 pendatang dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Bantul 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kabupaten Bantul hingga Senin 18 Mei 2020 sudah kedatangan sebanyak 5,549 pendatang dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dari jumlah tersebut, pendatang terbanyak berada di Kecamatan Imogiri dengan total sebanyak 707 pendatang.

Berikut data pendatang di Kabupaten Bantul berdasarkan data yang dirilis Satgas COVID-19 Kabupaten Bantul hingga Senin (18/5/2020) pukul 16.30 WIB

1. Kecamatan Sedayu : 470
2. Kecamatan Kasihan : 665
3. Kecamatan Sewon : 527
4. Kecamatan Pajangan : 218
5. Kecamatan Banguntapan : 300
6. Kecamatan Piyungan : 271
7. Kecamatan Pleret : 208
8. Kecamatan Bantul : 326
9. Kecamatan Pandak : 274
10. Kecamatan Jetis : 298
11. Kecamatan Imogiri : 707
12. Kecamatan Dlingo : 429
13. Kecamatan Bambanglipuro: 172
14. Kecamatan Pundong : 49
15. Kecamatan Srandakan : 176
16. Kecamatan Sanden : 243
17. Kecamatan Kretek : 216

Data pendatang di Kabupaten Bantul per 18 Mei 2020
Data pendatang di Kabupaten Bantul per 18 Mei 2020 (Satgas COVID-19 Kabupaten Bantul)

Sementara itu, total ODP di Kabupaten Bantul sebanyak 881 orang dengan 629 orang di antaranya sudah selesai pemantauan. Kemudian total Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 312 dengan rincian 219 PDP negatif, 40 orang dalam proses uji lab dan 5 lainnya meninggal.

Adapun kasus positif COVID-19 sebanyak 53 kasus, 34 orang di antaranya dirawat dan 17 lainnya sembuh.

Akibat kondisi ini, RS Rujukan nyaris penuh.

"Semua (rumah sakit rujukan) penuh, sekarang posisinya penuh, hanya ada satu dua yang masih punya space, tapi rata-rata udah penuh," kata Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Rahardjo ditemui seusai menghadiri rapat forkompimda jelang idulfitri di gedung Induk Parasamya, Senin (18/5/2020). 

Menurut Agus, rumah sakit rujukan di Bantul yang kapasitasnya sudah penuh untuk menampung pasien Covid-19 antara lain RS PKU Muhammadiyah Bantul, RSUD Panembahan Senopati dan RS Lapangan di Bambanglipuro.

Ketiga rumah sakit tersebut menurutnya sudah penuh.

Kalaupun masih ada space menurutnya paling hanya cukup menampung satu ataupun dua pasien. 

Rumah sakit yang kondisinya dimungkinkan masih cukup space untuk menampung pasien covid-19, kata dia, ada di RSPAU Hardjolukito.

Pasalnya, rumah sakit angkatan udara yang terletak di Banguntapan itu menurut dia terus ditingkatkan kapasitasnya agar dapat lebih banyak menampung pasien. 

"Terutama untuk pasien OTG (orang tanpa gejala) dan PDP gejala sedang," terang dia. 

Mengingat sejumlah rumah sakit rujukan di Bantul kondisinya penuh, Agus mengaku telah menyiapkan dua rumah sakit cadangan, yakni RS Nur Hidayah dan RS Rajawali Citra.

Kedua rumah sakit swasta tersebut sedang disiapkan SK agar dapat digunakan untuk melayani pasien covid-19.

Selain dua rumah sakit tersebut, di Bantul sebenarnya ada satu lagi rumah sakit yang bisa menangani pasien terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab covid yaitu RS Paru Respira.

Tetapi menurut Agus, rumah sakit spesialis paru itu tidak bisa melayani rawat inap. 

"Karena di sana difungsikan untuk rujukan utama TB-MDR [Tuberculosis Multi Drug Resistant]," ucap dia. 

Perlu diketahui, di Kabupaten Bantul saat ini total Orang Dalam Pemantauan (ODP) 874 orang dan yang masih dipantau 245 orang.

Sementara total Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 304 orang dan masih dirawat 29 orang.

Adapun positif Covid-19 berjumlah 53 orang dan 34 orang masih dirawat di sejumlah rumah sakit rujukan. 

Jumlah tersebut belum termasuk 250 orang yang sedang mengantre untuk dites melalui Rapid Test karena berkontak erat dengan pasien positif dari berbagai klaster.

Kemudian masih ada sekitar 100 orang yang akan dilakukan rapid test dari klaster Indogrosir.

Transmisi Lokal

Agus sangat berharap di Bantul tidak ada pelonggaran mengenai protokol kesehatan.

Masyarakat juga diharapakan tetap disiplin.

Disamping tren kasus yang terus mengalami peningkatan, Bantul juga sudah ditetapkan sebagai Kabupaten transmisi lokal penularan virus SARS CoV-2 penyebab covid oleh Kementerian Kesehatan. 

Meski penularannya hanya terjadi di beberapa kecamatan, namun Agus tidak menjamin kecamatan lainnya bebas dari penularan Covid-19.

Sebab, kata dia, hampir semua kecamatan di Bantul saat ini kedatangan pemudik dan kerumunan masih sering terjadi.

Ia mengaku sering melihat di beberapa tempat masih terdapat kerumunan masyarakat.

Hal tersebut menurutnya berpotensi memperlambat penuntasan Covid-19.

Karena itu meski ada kebijakan relaksasi atau kelonggaran dari pemerintah pusat, Mantan Wakil Direktur RSUD Panembahan Senopati itu berharap di Bantul justru lebih diperketat pembatasan karena kurva penularan nyatanya semakin meningkat. 

Lima PDP Covid-19 Meninggal di RSUD Panembahan Senopati Bantul, Ini Tanggapan Ketua IDI DIY

"Di Bantul menurut kami kondisinya masih cukup berat terjadi pelonggaran. Dari pada melonggarkan tapi tidak selesai sampai akhir tahun atau sampai 2021, lebih baik memperketat tapi cepat selesai," ucap Agus.

Apalagi prosentase kematian akibat Covid-19 di Kabupaten Bantul menurut dia terbilang sangat tinggi.

Angkanya mencapai 3,77 persen.

Hampir sepuluh kali lipat dibandingkan dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang berada di angka 0,3 persen. 

"Prosentase kematian covid-19 di Bantul ini sangat tinggi. Hampir sepuluh kali lipat dari DBD yang menjadi momok kita bersama," jelas Agus. 

Bupati Bantul Suharsono sebelumnya juga meminta masyarakat untuk mematuhi imbauan pemerintah agar dapat menekan laju infeksi penularan Covid-19.

Sebaiknya tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan mendesak dan beribadah cukup di rumah saja dengan keluarga inti. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved