Relawan Gapadri ITNY Bantu Perbaiki Tandon Air Warga di Goa Jomblang Ngejring

sejumlah relawan dari Gapadri Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) melakukan perbaikan tandon air, mesin, dan yang lainnya

ist
Relawan Gapadri ITNY Bantu Perbaiki Tandon Air Warga di Goa Jomblang Ngejring 

TRIBUNJOGJA.COM - Sudah dua hari ini, terhitung sejak Sabtu, 2 Mei 2020, sejumlah relawan dari Gapadri Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) melakukan perbaikan tandon air, mesin, dan yang lainnya di dalam “Goa Jomblang Ngejring” di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito,Wonogiri, Jawa Tengah.

Seperti telah diberitakan di media ini, di dasar goa vertikal tersebut pada kedalaman sekitar 180 meter terdapat aliran sungai bawah tanah yang airnya berhasil diangkat pada akhir tahun 2019 lalu untuk keperluan masyarakat setempat yang setiap tahun selalu terdampak musibah kekeringan.

Menurut keterangan Kiai Mohammad Wiyanto (Gus Yayan) kerusakan itu terjadi akibat serumpun pohon bambu yang ada di atas tebing dan mengarah ke mulut goa ambrol karena curah hujan lebat sebulan lalu.

Ketua Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) DPW Jawa Tengah ini menuturkan akibat reruntuhan tersebut, Kepala Desa Gendayakan Heri Sutopo menghubunginya agar rekan-rekan dari Gapadri Mapala ITNY dapat memperbaikinya.

Sebab, untuk masuk ke dalam goa vertikal (luweng) itu, diperlukan alat dan keahlian khusus.

“Tepatnya hari Jumat sekitar 1 bulan yang lalu terjadi hujan terakhir di Desa Gendayakan. Hujan dengan intensitas cukup lebat itu meruntuhkan serumpun pohon bambu beserta akar-akarnya amblas ke dalam goa. Reruntuhan pepohonan bambu itu menimpa tandon-tandon yang telah terpasang di teras pit 2 dengan kedalaman 110 meter,” ungkap Gus Yayan lalu melanjutkan.

Relawan Gapadri ITNY Bantu Perbaiki Tandon Air Warga di Goa Jomblang Ngejring
Relawan Gapadri ITNY Bantu Perbaiki Tandon Air Warga di Goa Jomblang Ngejring (ist)

“Karena gaya gravitasi di kedalaman 110 meter tentu membuat efek kerusakannya cukup berat. Pengaman galvalum yang cukup tebal porak poranda, sebagian menjadi serpihan. Reruntuhan itu juga mematahkan pipa PVC yang telah terpasang. Tentu keadaan tersebut mengakibatkan pasokan air ke bak penampungan terhenti.”

Di sisi lain, saat ini masyarakat sekitar sudah sangat membutuhkan air hasil kerja bareng tersebut.

“Di satu sisi Gendayakan sudah tidak hujan lagi selama 1 bulan semenjak hujan lebat terakhir yang meruntuhkan rumpun bambu itu kedalam goa. Maka tentu bisa dibayangkan terhentinya pasokan air membuat repot masyarakat dalam memperoleh air,” ungkap Gus Yayan yang saat eksplorasi menjadi penanggung jawab kegiatan.

“Sabtu siang, 2 Mei 2020 Tim dari Mapala Gapadri ITNY yang terdiri dari 6 orang diterjunkan untuk melakukan perbaikan, dan sampai hari ini perbaikan masih dilakukan oleh tim. Kami berharap doa dari semuanya, agar pekerjaan ini cepat selesai dan aman,” pungkas Gus Yayan kepada Padasuka.id, Minggu (3/5/2020).

Sebelumnya, pada bulan Maret yang lalu, tepatnya Jum’at sore, 27 Maret 2020, Padasuka.id berkesempatan berkunjung lagi ke Goa Jomblang Ngejring.

Saat itu kondisi alamnya sudah berubah seiring musim hujan. Jika saat eksplorasi (saat musim kemarau), mulut luweng masih terlihat dari posisi lahan bagian atas, pada Jumat sore itu tertutup semak belukar yang menghijau dan begitu rimbun.

Dari pantauan langsung di lokasi, air hasil eksplorasi yang sudah mengalir dan dipusatkan di tengah Dusun Ngejring itu tetap dimanfaatkan warga meskipun saat itu masih dalam suasana musim penghujan.

Pasalnya, masyarakat di Desa Gendayakan dan umumnya masyarakat Kecamatan Paranggupito, memang tidak memiliki sumur untuk kebutuhan air sehari-hari.

Menurut beberapa orang sumber, sejak mula Desa Gendayakan dihuni, masyarakatnya hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di bak berukuran besar untuk keperluaan sehari-hari.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved