Peneliti Temukan Bukti Baru Virus Mirip COVID-19 pada Kelelawar

erangkaian penelitian menunjukan bahwa COVID-19 bukanlah virus yang dikembangkan secara sengaja di laboratorium

Editor: Mona Kriesdinar
net
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Serangkaian penelitian menunjukan bahwa COVID-19 bukanlah virus yang dikembangkan secara sengaja di laboratorium. Melainkan virus yang berevolusi secara alami.

Ada dugaan bahwa virus ini kemungkinan besar berasal dari kelelawar, menular ke hewan, dan bermutasi hingga menjadikan pandemi global seperti saat ini.

Sebuah studi baru menguatkan teori tersebut.

Tim ilmuwan dari China menemukan adanya kerabat dekat virus SARS-CoV-2 dalam kelelawar.

Mereka juga menemukan mutasi yang merupakan penyisipan materi genetik ke dalam genom virus yang menunjukkan bahwa perubahan virus itu memang terjadi secara alami.

"Sejak ditemukannya virus corona SARS-CoV-2, ada sejumlah teori tidak berdasar yang mengungkap bahwa virus corona baru berasal dari laboratorium," ungkap ahli mikrobiologi dari Shandong First Medical University, Weifing Shi.

"Secara khusus, telah diusulkan penyisipan S1/S2 sangat tidak biasa dan mungkin merupakan indikasi manipulasi laboratorium. Tapi makalah kami menunjukkan dengan sangat jelas bahwa virus corona secara alami berasal dari satwa liar. Ini memberi bukti kuat bahwa SARS-CoV-2 bukan buatan laboratorium," imbuh Weifeng Shi dilansir Science Alert, Selasa (12/5/2020).

Virus yang baru ditemukan pada kelelawar ini, oleh tim Weifeng Shing dinamai RmYN02.

Diidentifikasi selama analisis terhadap 302 sampel dari 227 kelelawar yang berasal dari provinsi Yunnan, China, pada paruh kedua 2019.

Setelah menganalisis virus yang ditemukan dalam sampel kelelawar, tim akhirnya mengungkap dua genom virus corona yang hampir lengkap, yakni RmYN01 dan RmYN02.

RmYN01 hanya memiliki kecocokan rendah dengan SARS-CoV-2. Namun RmYN02 sangat mirip dengan SARS-CoV-2.

Virus corona RmYN02 memiliki 93,3 persen genom yang sama dengan SARS-CoV-2, dan satu gen tertentu yang disebut 1ab berbagi 97,2 persen. Ini adalah kecocokan terdekat dalam gen tersebut hingga saat ini.

Lalu ada acara penyisipan. RmYN02 mengandung insersi asam amino pada titik di mana dua subunit (S1 dan S2) dari protein lonjakan bertemu.

SARS-CoV-2 juga memiliki insersi S1 dan S2 - mereka bukan asam amino yang sama dalam kedua virus, tetapi ini menunjukkan bahwa insersi ini dapat terjadi secara alami, tidak memerlukan laboratorium.

Meskipun memiliki kesamaan, itu tidak berarti RmYN02 adalah leluhur langsung dari virus yang menyebabkan COVID-19 di seluruh dunia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved