Pesan Sosial Dalam Lirik Lagu Didi Kempot

Kepergian yang terasa mendadak dan menimbulkan rasa kehilangan bagi masyarakat dan para penggemarnya yang dijuluki dengan Kempoters dan Sobyat Ambyar.

kompas.com
Didi Kempot 

*Oleh: Catur Nugroho, Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjahmada Yogyakarta, Dosen Ilmu Komunikasi Telkom University Bandung.

MASIH lekat dalam ingatan masyarakat Indonesia ketika pada Sabtu, 11 April 2020 salah satu televisi swasta nasional menyiarkan konser dari rumah yang menampilkan penyanyi Didi Kempot, sebelum akhirnya dikejutkan dengan kepergian penyanyi yang dijuluki The Godfather Of Brokenheart tersebut pada Selasa, 5 Mei 2020.

Kepergian yang terasa mendadak dan menimbulkan rasa kehilangan bagi masyarakat dan para penggemarnya yang dijuluki dengan Kempoters dan Sobyat Ambyar.

Penyanyi yg telah hampir 30 tahun meniti karir, dan konsisten di lagu-lagu berbahasa Jawa ini meninggal pada saat "kebangkitan" karya-karyanya. Tak kurang dari 700 lagu berbahasa Jawa telah diciptakan oleh sang legenda.

Lagu-lagu Didi Kempot tersebut mengangkat berbagai macam tema dari kehidupan sehari-hari. Pada awal karirnya, Didi Kempot sempat menciptakan dan membawakan lagu-lagu dengan tema komedi (lagu jenaka) seperti lagu Kuncung, Cucak Rowo, Dolanan Dakon, dan Sekonyong-Konyong Koder.

Lagu-lagu yang menghiasi perjalanan karir Didi Kempot di awal era 90-an tersebut mungkin hanya familiar di kalangan orang-orang Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur.

Selain itu, penyanyi kelahiran Solo ini juga dikenal banyak menulis lagu yang menyebutkan nama tempat, seperti lagu Solo Balapan, Parangtritis, Angin Malioboro, Tanjung Mas Ninggal Janji, Jembatan Suramadu hingga yang terbaru lagu Pantai Klayar dan Kangen Nickerie.

Namun lagu-lagu dengan tema patah hati, sakit hati, kehilangan orang yang disayang menjadikan seorang Didi Kempot sebagai penyanyi paling bersinar dalam dua tahun terakhir.

Lagu-lagu Cidro, Layang Kangen, Sewu Kutho, Kapusan Janji, Suket Teki, Kalung Emas hingga tembang teranyar seperti Pamer Bojo, Tatu, dan Tulung.

Banyak dari lagu-lagu tersebut yang sebenarnya adalah lagu yang telah lama diciptakan oleh sang maestro sejak awal karirnya di dunia musik.

Namun, dalam dua tahun terakhir, lagu-lagu tersebut kembali "meledak" karena banyak digemari oleh anak-anak muda dan kaum milenial.

Para penggemar baru yang menjuluki diri mereka Sobyat Ambyar ini adalah kaum muda yang merasakan galau dan sakit hati karena percintaan.

Lagu-lagu Didi Kempot dianggap mewakili suara hati para generasi milenial ini, sehingga di setiap pertunjukan atau konser Didi Kempot selalu dipenuhi oleh anak-anak muda tersebut.

Meskipun sebagian besar lagu-lagunya menggunakan bahasa Jawa, DK mampu mewakili perasaan pendengarnya yang bukan orang Jawa.

Diantara ratusan lagu yang diciptakan dan dinyanyikan DK, terselip beberapa lagu yang berisi pesan moral dan sosial di dalam liriknya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved