Superball
Talenta Pesepakbola Lokal Harus Berani Bersaing
Pemain lokal harus memiliki modal semangat, loyalitas, serta fanatisme kedaerahan yang luar biasa.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
Menurut Sumarjono, keberhasilan menjadi juara Divisi I itu rasanya sangat luar biasa.
Ditambah lagi sebelumnya PSIM Yogyakarta sudah sangat lama puasa gelar di level nasional.
"Itu momen yang paling indah dalam perjalanan karir saya sebagai pesepak bola profesional. Kalau bisa diulang, momen itu tentu luar biasa sekali," ujarnya.
Nah keberhasilan ini lah yang diharapkan jadi pelecut bagi Laskar Mataram kembali berprestasi, juga pelecut bagi talenta lokal agar berani bersaing.
Sebab, menilik komposisi PSIM Yogyakarta saat ini, justru lebih banyak dihuni pemain luar DIY.
• Kiat Bisnis Eks Pemain PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman Survive di Tengah Pandemi Covid-19
Adapun beberapa pemain asli DIY yang kini memperkuat PSIM Yogyakarta diantaranya Yoga Pratama, Martinus Novianto, Yudha Alkanza, Ken Noveryan, Sunni Hizbullah, dan Al Rizqy.
"Sebenarnya pemain lokal matang itu melalui proses ya. Kala itu pemain PSIM Yogyakarta pun belum jadi 'bintang', tapi punya modal semangat, loyalitas, serta fanatisme kedaerahan yang luar biasa. Bermodal itu akhirnya dituai hasilnya," ujar Marjono.
"Saya rasa tergantung motivasi, pemain lokal saat berani bersaing atau tidak?," imbuhnya.
Lebih lanjut, menurutnya hal yang membedakan ialah sewaktu dulu kompetisi internal berjalan.
"Kalau dulu kompetisi internal berjalan. Mereka yang dipanggil seleksi dipantau dari kompetisi internal. Dulu seleksi pemain juga dilakukan secara terbuka, bahkan bisa sampai ratusan yang ikut," ujarnya.
"Kalau sekarang kan sistemnya dirampingkan, memanggil pemain yang sudah jadi untuk mempercepat proses pembentukan tim. Ini bicara era dulu dan era sekarang ya," imbuhnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/psim-yogyakarta-vs-psbs-biak-digelar-di-stadion-sultan-agung-bantul-sore-hari.jpg)