Update Corona di DI Yogyakarta
Ketua PERSI DIY Berharap Adanya SOP Tenaga Kesehatan yang Melayani Pasien Covid-19
Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) DIY, dr Darwito, mengatakan tingkatan klinis dari pandemi Covid-19 di dunia mencapai tiga pers
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Pandemi Covid-19 merupakan tantangan skala besar bagi rumah sakit dan tenaga kesehatan (nakes).
Dalam waktu bersamaan, para nakes harus menerima pasien dalam jumlah yang sangat banyak.
Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) DIY, dr Darwito, mengatakan tingkatan klinis dari pandemi Covid-19 di dunia mencapai tiga persen dari jumlah populasi.
“Yang harus kita waspadai, pandemi ini akan banyak orang yang terpapar. Paling tidak clinical rate-nya tiga persen dari populasi di Indonesia. Bisa dibayangkan ada berapa juta pasien se-Indonesia,” ujarnya dalam seminar daring yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM dan Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Rabu (8/4/2020).
• Dorong Konsumsi Air Putih untuk Anak-anak, PERSI Gandeng Pemda DIY
Hal itu otomatis membuat beban kerja para nakes menjadi sangat besar.
Darwito mengungkapkan, tekanan dan stresor psikis yang diterima nakes pun meningkat berkali lipat.
“Saya memohon kepada Ketua Umum PERSI agar ada SOP bagi rumah sakit yang menangani pandemi Covid-19,” tuturnya.
SOP tersebut menurutnya, perlu berisi hal-hal yang mendukung kinerja nakes dalam penanganan Covid-19.
Misalnya, bagaimana dan kapan seorang tenaga kesehatan mulai bekerja, berapa jam lagi dia harus melakukan relaksasi, berapa kali lagi harus mengonsumsi makanan dan suplemen.
“Dengan itu bisa menurunkan atau menghilangkan stres para nakes dan mereka bisa memenuhi layanan dengan baik. Selama ini kita masih belum tahu (SOP) ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, kata dia, para psikolog juga memiliki peran sangat penting.
• Apresiasi dan Dukungan Kepada Tim Medis di RSUD Wates
“Penyakit yang tidak tahu kapan selesainya ini bisa memicu stres yang akan menyebabkan turunnya imunitas. Baik pasien maupun nakes. Padahal ini (imunitas) sangat penting dalam penyembuhan,” paparnya.
Ia berharap peran psikolog juga dapat diakses oleh masyarakat secara luas.
“Masyarakat sekarang stres bukan kepalang. Yang menengah ke bawah mengalami gangguan ekonomi sekaligus psikologi. Itu membutuhkan sentuhan psikolog,” tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/4-warganya-terpapar-covid-19-pemkab-bantul-ada-kemungkinan-transmisi-lokal.jpg)