Update Corona di DI Yogyakarta
Infeksi Virus Corona Terus Menyebar, Pakar Kebijakan Publik UGM : Pemerintah Harus Lebih Cepat
Agus Purwanto memandang banyaknya dokter dan tenaga medis yang berguguran juga disebabkan respon pemerintah yang terbilang terlambat
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sudah satu bulan berlalu sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan pasien pertama Covid-19 di Indonesia pada Senin (2/3/2020) lalu.
Hingga saat ini korban akibat terjangkit virus corona covid-19 terus bertambah.
Tak hanya masyarakat umum, tetapi juga dokter dan tenaga medis yang menjalankan tugas di garda terdepan.
Dilansir Tribunjogja.com dari kompas.com, Kamis (2/4/2020), Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat setidaknya ada 13 dokter yang meninggal dunia selama penanganan pandemi Covid-19 di tanah air.
• Pemkab Sleman Siapkan Tempat Pemakaman Khusus bagi Pasien Covid-19 yang Meninggal Dunia
• Operasi Aman Nusa Dua Progo 2020, Polda DIY Bubarkan Kerumunan Demi Cegah Penyebaran Covid-19
Sementara, hingga Sabtu (4/4/2020) melalui akun Instagram PB IDI telah diumumkan sebanyak 17 dokter yang wafat karena menangani pasien Covid-19.
Seorang dokter tersebut juga ada yang berasal dari DIY, yaitu Prof dr Iwan Dwiprahasto, yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Mengutip dari kompas.com, menurut Ketua Umum PB IDI, Daeng M Faqih, ada dua hal yang mengakibatkan seorang dokter atau tenaga medis dapat terinfeksi virus corona.
Pertama, tenaga medis tersebut tertular pasien yang tidak diketahui bahwa pasien yang ditangani positif Covid-19.
Kedua, karena minimnya jumlah alat pelindung diri (APD) yang memenuhi standar dan memadai untuk digunakan tenaga medis selama menangani pasien.
Butuh Respon Pemerintah
Guru besar Ilmu Kebijakan Publik UGM, Erwan Agus Purwanto, memandang banyaknya dokter dan tenaga medis yang berguguran juga disebabkan respon pemerintah di awal yang terlambat.
"Ada jeda dua bulan saat virus corona merebak di Cina hingga masuk ke Indonesia. Namun saat itu nampaknya banyak pengambil kebijakan yang bersikap denial (menolak), sehingga tidak memiliki kesiapan untuk APD," ujarnya saat dihubungi Tribun Jogja, Sabtu (4/4/2020).
Erwan menilai, pemerintah kehilangan golden time atau waktu emas untuk mencegah meluasnya wabah Covid-19 di Indonesia.
"Waktu itu yang kita temukan justru APD di Indonesia langka dan banyak dijual ke Cina dan negara lain. Hingga kita tidak punya kesiapan untuk APD dan tenaga medis harus menjadi korban," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dr-erwan-agus-purwanto_20180312_104703.jpg)