Kisah Inspiratif

Relawan Solidaritas Pangan Jogja Bagi-bagi Nasi Bungkus Setiap Hari

Aksi ini jadi wujud solidaritas kepada para pekerja informal yang mengalami kesulitan ekonomi seiring merebaknya wabah Covid-19 di DIY.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Maruti Asmaul Husna Subagio
Bagas (kedua dari kiri-belakang) bersama rekan-rekan relawan Solidaritas Pangan Jogja kompak berbagi tugas di Dapur Prawirotaman. Ada yang bertugas memasak dan ada yang membagi-bagikan makanan. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Sekitar sepuluh pemuda dan pemudi berjibaku menyiapkan nasi bungkus di Reene’o Guesthouse, Brontokusuman, Yogyakarta, Jumat (27/3/2020).

Pagi hingga siang itu mereka menyiapkan menu nasi goreng.

Mereka adalah relawan Solidaritas Pangan Jogja di Dapur Prawirotaman.

Aksi tersebut memiliki empat posko atau dapur yang menyiapkan makanan di empat tempat.

Dapur Prawirotaman merupakan dapur kedua.

Inilah Pencetus Ide Bagi Nasi Gratis Jogja Hingga Relawan Covid-19

Aksi yang dipelopori oleh kaum muda tersebut terbentuk sebagai wujud solidaritas kepada para pekerja informal yang mengalami kesulitan ekonomi seiring merebaknya wabah Covid-19 di DIY.

Para pekerja harian seperti pengemudi ojek, pedagang kecil, tukang becak, dan tukang andong nyaris tidak mampu menyambung hidup jika tidak bekerja di luar.

Fajar Bagaskara Mahardika adalah pemilik Reene’o Guesthouse yang secara sukarela menjadikan tempatnya sebagai posko.

Awalnya, Bagas, sapaan akrab Fajar Bagaskara Mahardika, melihat status salah seorang rekannya, Michelle Rizky Yuditha, di Facebook.

“Waktu itu saya lihat Michelle posting status yang menunjukkan kesulitan para pekerja informal mendapat penghasilan pasca masuknya Covid-19 di DIY. Dia mengajak untuk membantu para pekerja tersebut khususnya untuk kebutuhan pangan,” ujar Bagas ditemui Tribunjogja.com, Jumat (27/3/2020).

Melihat ajakan tersebut, Bagas langsung tergerak mengulurkan bantuan.

Setelah melakukan komunikasi lebih lanjut, Bagas pun menawarkan guesthouse-nya untuk dijadikan posko dapur.

Kenali Perbedaan Batuk Gejala Virus Corona Covid-19 dengan Batuk TBC

“Guesthouse sudah tutup sejak 3 Maret. Sudah tidak ada wisatawan sejak pengumuman pasien positif Covid-19,” tutur Bagas.

Sejak Kamis (26/3/2020) pagi, sebanyak enam orang relawan sudah berkumpul di Reene’o Guesthouse atau posko Dapur Prawirotaman.

Mereka terdiri atas pemuda dan pemudi yang terbagi menjadi juru masak serta tim bagi-bagi makanan.

“Kami masak pukul 09.00 WIB, lalu bagi-bagi pukul 13.00 WIB pakai motor sendiri. Setiap hari kami bagi 50 bungkus nasi ke Pasar Prawirotaman dan Pasar Pasty,” jelas Bagas.

Adapun orang-orang yang selama ini menerima nasi bungkus gratis tersebut di antaranya tukang becak, pengemudi ojek online, serta tukang pengangkut sampah.

Setiap bungkus nasi mencakup nasi, sayur, dan lauk pauk yang lengkap.

“Hingga kini donasi dari masyarakat terus berdatangan. Ada yang memberi dalam bentuk uang. Ada pula yang memberi logistik bahan mentah, semisal beras dan telur. Hari ini (Jumat, 27/3/2020) ada yang mengirimkan sepuluh boks nasi,” papar pemuda kelahiran 24 Mei 1993 itu.

Menurut Bagas, logistik bahan mentah yang tersedia di Dapur Prawirotaman saat ini cukup untuk satu minggu ke depan.

Namun, donasi berupa uang yang sudah terkumpul kemungkinan cukup untuk satu bulan ke depan.

Band Legendaris God Bless Nyanyikan Rumah Kita Akustik Untuk Donasi Hadapi Virus Corona

Di hari kedua beroperasi, Dapur Prawirotaman kedatangan relawan tambahan.

Dari yang sebelumnya enam orang, hari ini (Jumat, 27/3/2020) menjadi sembilan orang.  

“Yang bertanggung jawab di sini selain saya ada Adi, Dendy, Vivi, dan Winih,” papar alumnus suatu universitas swasta di DIY itu.

Selama bekerja, para relawan berusaha mengikuti imbauan yang dikampanyekan pemerintah.

Misalnya, menggunakan APD saat distribusi dan membuat makanan.

“Hanya saja untuk jaga jarak selama di dapur yang mungkin agak susah. Tempat yang kami punya (ukurannya) terbatas. Di kondisi seperti saat ini, yang utama adalah menyelamatkan nyawa para pekerja yang tidak bisa makan,” tukas Bagas.

“Tapi kalau ada teman relawan yang sakit, kami larang membantu. Seperti hari ini ada yang tidak bisa ikut karena sakit, kami minta istirahat di rumah,” sambung Bagas.

Bagas pun mengeluhkan terkait APD yang sulit didapat dibanding hari-hari biasa.

Menurutnya, APD paling dibutuhkan saat tim relawan melakukan distribusi makanan ke masyarakat.

“Tapi untuk distribusi sejauh ini APD masih ada,” ungkapnya.

Kanwil Kemenag DIY Galang Donasi Penanganan Covid-19 ke Setiap Satker

Sebagai relawan, Bagas berharap pemerintah segera melakukan tindakan-tindakan yang nyata untuk membantu masyarakat kecil.

“Yang pertama pasti berharap corona segera berakhir. Kedua, untuk pemerintah supaya melakukan hal-hal yang lebih real. Kami tidak akan (melakukan hal) seperti ini jika pemerintah turun tangan, melakukan hal yang sepatutnya dilakukan,” jelas Bagas.

Seorang anggota tim bagi-bagi makanan, Okta Cahya Saputra, mengungkapkan motivasinya turun membantu ialah karena kondisi saat ini tergolong darurat.

“Sekarang keadaannya darurat. Jiwa sosial kita harus tergerak. Nggak boleh individualis. Apalagi satu orang kena (terpapar virus) semuanya bisa kena. Nggak boleh egois. Apa yang kita punya kita berikan,” ujar Okta.

Ia berpendapat, kini saatnya semua pihak berperan.

“Minimal lingkungan RT RW bergerak. Dari RT saya hari ini sudah nyemprot (disinfektan) secara swadaya. Saat ini posisi saya susah juga, jadi membantu dari sisi tenaga dulu. Untuk bagi-bagi ini selama diperlukan, saya oke-oke saja,” paparnya. (TRIBUNJOGJA.COM

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved