Menlu Venezuela Sebut Elite Washington Putus Asa Hadapi Maduro
Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza menyebut elite pemerintahan AS putus asa menghadapi Presiden Nicolas Maduro.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Menlu Venezuela Sebut Elite Washington Putus Asa Hadapi Maduro
TRIBUNJOGJA.COM, CARACAS - Menteri Luar Negeri Venezuela Jorge Arreaza menyebut elite pemerintahan AS putus asa menghadapi Presiden Nicolas Maduro.
Tanggapan Arreaza muncul menyusul keputusan Gedung Putih menawarkan hadiah bagi penangkapan Maduro dan pejabat tinggi lainnya atas dugaan perdagangan narkoba.
Jorge Arreaza menambahkan, tuduhan terorisme narkotika membuktikan obsesi Washington menaklukkan Venezuela dengan segala cara.
• Washington Tebar Hadiah 15 Juta Dolar AS Agar Bisa Tangkap Presiden Venezuela
"Republik Bolivarian Venezuela mengecam, pada saat umat manusia menghadapi pandemic Corona paling sengit, pemerintah Donald Trump lagi-lagi menyerang rakyat Venezuela,” kata Arreaza dikutip Sputniknews.com, Jumat (27/3/2020).
Langkah itu menurutnya sama saja kudeta baru, atas dasar tuduhan yang menyedihkan, vulgar dan tidak berdasar.
Atas tuduhan Maduro terhubung kelompok FARC Kolombia mengekspor kokain ke AS, Menlu Arreaza mengingatkan peran Venezuela dalam negosiasi damai antara pemerintah Kolombia dan FARC.
Sebaliknya, Arreaza menuduh AS mengizinkan narkoba itu diproduksi dan dikirim ke Amerika Utara di bawah pengawasan pemerintah sekutunya di Kolombia.
"DEA telah menjadi aktor internasional utama perlindungan produksi dan pemrosesan obat-obatan di Kolombia,” lanjutnya.
DEA adalah lembaga hukum AS yang berwenang mengawasi peredaran obat-obatan terlarang di dalam maupun luar negara itu.
Diberitakan sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan sayembara berhadiah 15 juta dolar AS sebagai imbalan informasi yang dapat digunakan untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Tak hanya Maduro, Wakil Presiden Venezuela dan deretan pejabat tinggi negara itu masuk daftar yang diinginkan Washington untuk dipenjarakan.
Tuduhan yang disodorkan, mereka dinilai terlibat perdagangan narkoba.
Pengumuman dilakukan Kamis (26/3/2020) malam waktu Washington, dikutip Russia Today, Jumat (27/3/2020).
Sayembara berhadah ini langkah keras yang dilakukan AS guna mendepak Maduro dari kepemimpinan nasional Venezuela.
Tuduhan sama diarahkan ke Ketua Majelis Nasional Konstituante Diosdado Cabello Rondon, Jenderal (Purn) Hugo Carvajal Barrios, dan Clive Alcala Cordones, atau Menteri Industri dan Produksi Nasional Tareck Zaidan El Aissami Maddah.
Kepala mereka masing-masing dihargai 10 juta dolar AS.
Departemen Kehakiman AS telah menyusun tuduhan terhadap para pemimpin Venezuela itu, meski secara bukti-bukti tidak sekokoh yang diklaim Jaksa Agung William Barr.
Dakwaan akan diajukan di pengadilan Miami dan New York, atas sangkaan mereka terlibat konspirasi narco-terorisme dengan kelompok gerilyawan Kolombia FARC.
Kelompok itu dituduh membanjiri Amerika Serikat dengan kokain. Langkah hukum dan politik AS ke Venezuela ini mengejutkan di tengah sanksi keras serta pandemic global virus Corona yang sangat merepotkan dunia.
Washington secara terbuka mendorong usaha mendongkel Presiden Maduro dari kepemimpinan Venezuela.
Mereka berusaha mendudukkan pemimpin oposisi Juan Guaido, meski usahanya selalu gagal.
Pemimpin Amerika Latin terakhir yang dituduh melakukan perdagangan narkoba oleh AS adalah Manuel Noriega dari Panama.
Ia didongkel dan ditangkap dan diekstradisi ke AS ata tuduhan tersebut.
Padahal Noriega sejak lama dikenal jadi mitra, sekutu paling menguntungkan bagi CIA yang menjalankan bisnis narkoba demi operasi-operasinya.
Noriega diadili di Miami, atas tuduhan perdagangan narkoba dan pencucian uang.(Tribunjogja.com/RT/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/menteri-luar-negeri-venezuela-jorge-arreaza.jpg)