Sleman

Sleman Siap Keluarkan 80 Ton Beras Jika Status KLB

Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman menyatakan ketersedian bahan pangan di Kabupaten Sleman aman.

Penulis: Santo Ari | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Kepala DP3 Sleman, Heru Saptono 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman menyatakan ketersedian bahan pangan di Kabupaten Sleman aman.

Stok beras untuk antisipasi Kondisi Luar Biasa (KLB) mencapai 70 ton dan untuk tahun ini ditambah lagi 10 ton.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono menjelaskan, stok tersebut akan dikeluarkan jika Bupati atau Gubernur sudah menyatakan darurat bencana.

Ia menjelaskan, ketersediaan pangan ini sudah ada di lumbung-lumbung dan kelompok-kelompok petani, sehingga pemkab tidak perlu ruangan yang besar untuk memusatkannya.

Bupati Sleman Keluarkan Instruksi untuk Penanganan Covid-19

Adapun pada tahun lalu, Sleman memiliki surplus 70 ribu ton beras.

Jumlah tersebut sisa dari hasil produksi dikurangi konsumsi masyarakat.

Heru juga menjelaskan bahwa Pemkab Sleman juga memiliki program unggulan yakni bersama-sama lumbung pangan provinsi menggerakkan masyarakat untuk selalu 'nandur opo sing dipangan' dan 'mangan opo sing ditandur'.

Adapun nandur opo sing dipangan diartikan sebagai menanam sesuai dengan apa yang dikonsumsi.

"Jika konsumsinya beras, maka kita harus menanam padi sebanyak-banyaknya. Itu dari sisi stok kita akan tersedia," ujarnya.

Gerakan ini juga bisa dengan memanfaatkan lahan pekarangan, khususnya untuk kebutuhan sayur.

Sehingga masyarakat tidak perlu pasokan dari luar dan bisa memanfaatkan lahan pekarangan sendiri.

Dengan langkah ini, maka akan ada kecukupan pangan bagi warga.

Sedangkan untuk 'mangan opo sik ditandur' berarti masyarakat harus mencukupkan kebutuhan konsumsinya pada produk lokal.

"Kalau kita tidak bisa menanam gandum, maka konsumsi gandum kita harus dikurangi. Padahal di Indonesia juga tidak ada yang bisa ditanami gandum makanya konsumsi untuk bahan pangan berdasar pada gandum diganti dengan bahan pangan yang ada, misalnya pada ketela," urainya.

Belum Masuki Musim Giling, Stok Gula di Sleman Menipis

Heru berharap hal ini bisa menjadi strategi survival masyarakat dengan adanya goncangan ekonomi maupun bencana.

Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa selain ketersediaan beras, Sleman juga memiliki ketersediaan bahan pangan lain dari sektor perikananan.

Produksinya mencapai 80 ribu ton per tahun di mana produksi tertinggi adalah ikan nila, lele, bawal dan gurame. Jumlah produksi ini jika dibandingkan konsumsi masyarakat, juga masih surplus. Ia menjelaskan, ketercukupan ikan 36 kg per kapita per tahun, sedangkan konsumsinya hanya 32 kg per kapita per tahun.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved