Breaking News:

The Journey of Happiness Ala Perupa Ekwan

Memaknai dan merasakan kebahagiaan adalah relatif dalam artian masing masing orang memiliki pengalaman sendiri sendiri.

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Hari Susmayanti
Dok Pribadi
Karya Ekwan dalam The Journey of Happiness 

Yang pasti, Ekwan kini membuka pintu bagi apapun untuk menjadi inspirasi, selama ia masih tetap setia menggerakkan tangan sesuai keinginan hati dan selama ia masih merasa nyaman untuk berkarya. Hasilnya adalah karya karya sugestif yang utuh.

“Berkesenian bagi saya itu tidak ada kata berhenti karena itu sumber kebahagiaan saya. Saya suka menyaksikan citra yang muncul dari permainan-permainan ekspresif saya. Saya sering terkejut melihat sebuah bentuk muncul, dan mewujud. Seandainya saya berhenti dan berpikir, mungkin hal itu tampak konyol. Saya tak mungkin akan berani melukis tangan seperti itu, atau kumis yang menggelantung di tepian muka atau apapun yang serupa, jika saya kebanyakan berpikir. Tapi kalau mengerjakan hal seperti ini menyenangkan, melukis dan memainkan warna sesuka hati, buat apa dipikirkan," seloroh Ekwan.

Memiliki Ruang Seni Kembang Jati Art House

Perupa yang sempat mengeyam pendidikan formal di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta ini juga memiliki ruang seni yang dikelolanya bernama Kembang Jati Art House. Melalui ruang seni ini Ekwan konsisten terus berkarya dengan menangkap momen hidup yang sudah ia lalui.

Ekwan sendiri mulai mempelajari seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Disana ia belajar dasardasar menggambar, melukis, mengukir kayu, membatik, membuat cetakan, membuat ilustrasi dan sebagainya.

Tak butuh waktu lama baginya untuk memutuskan bahwa ia akan menekuni lukis. Pada akhirnya ia menguasai beragam teknik dan gaya lukis.

Waktu itu ia tinggal di sebuah rumah kos di Yogyakarta, jauh dari kota asalnya yaitu Tuban, Jawa Timur. Lingkungan di sekitar rumah kosnya dipadati para seniman muda yang penuh gairah. Sebagian besar mereka menempuh pendidikan tinggi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya.

Walaupun ia tidak menempuh pendidikan tinggi seperti para tetangganya, pengaruh lingkungan tempat tinggalnya itu begitu besar dalam jalan hidupnya, termasuk diantaranya adalah pertemuan dengan seorang perempuan yang kelak akan ia nikahi.

Kemantapannya menjadi seniman dan caranya memandang hidup secara umumpun juga tak lepas dari pengaruh lingkungan tersebut.

Di antara berbagai artefak peradaban kuno, kartun tahun 1980an, aliran abstrak ekspresionis, emoticon simbol-simbol emosi pada gawai kontemporer dan wayang kulit Jawa, adalah karya seni Ekwan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved