Yogyakarta

Bidang Terdampak Tol Yogyakarta di Sendangadi dan Sinduadi Lebih Banyak Tempat Usaha

Sosialisasi pembangunan Tol Solo-Yogya terus berlanjut dan kali ini giliran warga Desa Sendangadi dan Sinduadi di Kecamatan Mlati.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
IST
Desain Tol di Sariharjo Garis Ungu Desain lama Garis Hijau Desain Baru 

TRIBUNJOGJA.COM - Sosialisasi pembangunan Tol Solo-Yogya terus berlanjut dan kali ini giliran warga Desa Sendangadi dan Sinduadi di Kecamatan Mlati.

Karena perubahan desain tol, maka bidang yang terdampak di Sinduadi yang semula berjumlah 108 bidang bertambah menjadi 163 bidang.  

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY Krido Suprayitno menuturkan bahwa dari 163 bidang terdampak, justru warga yang hadir mencapai 170an orang.

Sedangkan di Sendangadi, jumlah bidang yang terdampak ada 48 bidang dan yang datang saat lokasi hanya 40 orang.

"Kita akan validasi, menyempurnakan data dan diselesaikan dalam dua minggu ke depan," ujarnya saat ditemui di sela sosialisasi di Kantor Desa Sinduadi, Senin (24/2/2020).

Inilah Penampakan Desain Konstruksi Tol Yogyakarta-Solo di Simpang Monjali

Ia mengungkapkan, di Desa Sinduadi terdapat empat tanah kas desa yang terdampak dengan luas kurang lebih 6.500 meter.

Selain itu ada delapan titik jalan desa, sekolah dan makam umum.

Sedangkan di Sendangadi teradapat tiga tanah kas desa terdampak dengan luas sekitar 6.000 meter.

Dalam sosialisasi hari itu, ia menggarisbawahi permintaan masyarakat yang mengusulkan appraisal kolektif.

Menurutnya hal tersebut diusulkan karena pemilik bidang yang terdampak di kawasan itu adalah pelaku usaha. Di mana rata-rata pemiliknya berasal dari luar daerah.

"Nampaknya di sini dominasi yang non fisik karena banyak kegiatan usaha dan hunian relatif sedikit. Dari pembahasan tadi, masyarakat menghendaki musyawarah appraisal dilakukan secara kolektif. Ini berbeda dengan daerah lain," paparnya.  

Atas permintaan itu, Krido mengaku akan mempertimbangkannya.

Menurutnya persoalan teknis appraisal menjadi hak otoritas dari profesi appraisal.

Secara tahapannya, setelah penetapan lokasi (penlok) terbit, akan dilakukan pemasangan patok oleh tim pelaksana.

Super Gampang! Tutorial Make Up Khusus untuk Musim Hujan

Di proses itu dilakukan pendataan dan inventarisasi, baru setelahnya appraisal mulai menghitung.

"Dalam  appraisal harus didampingi oleh pemilik bidang, dengan maksud untuk mengetahui nantinya data yang berkaitan dengan penghitungan fisik dan non fisik," terangnya.

Adapun salah satu tempat usaha yang terdampak adalah jasa taksi yang berada di Sendangadi.

Ahmad, staf admin perusahan taksi tersebut mengatakan bisnis taksi itu sudah di sana paling tidak sejak tahun 2008. Bisnis taksi itu menyewa tanah kas desa dengan membayar per tahun.  

"Kebetulan kami di tanah kas desa. Untuk tanah kas desa pengurusannya diserahkan ke desa, kalau kita di ranah fisik atau non fisik untuk ganti untungnya. Lalau non fisik sejauh mana usaha terganggu. Kalau fisik berarti bangunannya," terangnya.

Dari informasi yang ia dapat, hampir semua bangunan akan terdampak dalam pembangunan tol ini.

Mau tidak mau, mereka harus pindah.

Namun pembahasan tentang mau ke mana mereka akan pindah, itu belum dibahas secara menyeluruh oleh kantornya.

Perubahan Desain Tol Yogyakarta di Monjali Perbanyak Bidang yang Terdampak

Jalan Harus Memutar

Perubahan desain tol di simpang Monjali memperbanyak bidang yang terdampak.

Semula tol akan dibangun elevated.

Namun karena pertimbangan garis imajiner, maka desain diubah menjadi etgrade.

Krido mengatakan, pembangunan tol tak akan mematikan jalan yang sudah ada.

Rencananya arus dari utar ke selatan atau dari jalan Palagan Tentara Pelajar ke jalan Monjali akan diputar ke timur.

Pembangunan Tol Yogyakarta-Solo di Atas Ring Road Berdampak Pada Kampus UPN, Amikom, Mercu Buana 3

Sebaliknya arus dari selatan ke utara atau dari jalan Monjali ke jalan Palagan Tentara Pelajar akan diarahkan memutar ke barat.

"Dari selatan harus ke barat 350 meter baru memutar ke timur untuk kemudian belok ke utara. Kalau yang dari utara ke selatan harus memutar ke timur dulu lebih kurang 700 meter, baru memutar ke barat untuk kemudian bisa belok ke selatan," ujarnya.  

Desain ini menurutnya untuk mengurai kepadatan lalu lintas.

Sedangkan fungsi ringroad lama akan bergeser ke arah utara dan  selatan tol.

Selain itu bergerak ke arah barat, tol akan dibangun sejajar dengan Jombor Fly Over, tepatnya di selatan Flyover. (TRIBUNJOGJA.COM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved