Kesehatan

Kenali Gejala Penyebab Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menularkan infeksi pada orang yang digigitnya.

Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUN JOGJA/M FAUZIARAKHMAN
Demam berdarah dengue 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Satu di antara penyakit yang kerap muncul pada saat musim penghujan yakni Demam Berdarah Dengue (DBD).

Penyakit Demam Berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menularkan infeksi pada orang yang digigitnya.

Dokter Spesialis Anak RS Panti Rapih Dr dr Fx Wikan Indarto, SpA mengatakan gejala utama jika terkena Demam Berdarah yakni pasien akan mengalami demam akut yang terjadi 2-5 hari.

Masa inkubasi sejak awal gigitan nyamuk hingga pasien mengalami demam sekitar 7-12 hari.

Sepanjang Januari 2020, Dinkes Kota Yogya Dapati 17 Kasus DBD

Gejala demam juga disertai kelemahan umum seperti mual, muntah, sakit kepala dan perut.

"Kelemahan umum ini yang perlu dicermati, karena merupakan tanda penting," ujarnya Senin (3/2/2020).

Sementara gejala seperti perdarahan spontan, seperti mimisan atau perdarahan di bawah kulit jarang sekali terjadi.

Apabila perdarahan spontan tersebut terjadi, maka yang dilakukan adalah observasi.

"Diobservasi saja. Biasanya berhenti sendiri," katanya.

Ia mengatakan, semua penyakit infeksi pada umumnya dapat menyebabkan suhu tubuh pasien menjadi naik turun.

Prakiraan Cuaca Hari Ini Senin 3 Februari 2020, Yogyakarta Diprediksi Berawan hingga Hujan

"Untuk itu, setiap orang tua yang memiliki anak balita, saya anjurkan memiliki termometer. Silahkan diukur suhu anak 3x sehari dan dicatat. Bawa catatan suhunya saat periksa ke dokter, agar memudahkan dokter untuk melakukan analisis," ujarnya.

Dijelaskan Dokter Wikan, sebagian besar pasien DBD dapat dirawat di rumah dengan kontrol teratur.

Yakni dengan melakukan pemantauan suhu tubuh, kondisi umum dan keluhan lain secara teratur.

Selain itu, juga pemberian cairan dan nutrisi secara memadai.

"Juga pengenalan tanda bahaya, agar orangtua tidak terlambat membawa anak ke RS, kalau terjadi perburukan kondisi anak," kata dia.

Ia mengatakan, hanya sekitar 5 persen kasus DBD yang perlu dirawat inap di rumah sakit dan kurang dari 1 persen DBD berat yang dapat menyebabkan kematian pasien.

Kematian pada umumnya terjadi pada pasien DBD berat dengan gejala klinis seperti demam tinggi dan tidak membaik menggunakan obat turun demam biasa, muntah dan nyeri perut hebat,

"Keadaan umum lemah dan kencing sedikit," jelas dia.

Ia mengatakan, nyamuk Aedes aegypti bersarang dan berkembang biak pada genangan air bersih.

Untuk itu upaya yang perlu dilakukan yakni dengan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) ditambah vaksinasi.

"Vaksinasi memang belum secara luas dikenal, karena biayanya yang masih tidak mudarh dan ketersediaan vaksinnya belum memadai," ungkapnya.

Tempat yang terisi air bersih harus sering dikuras secara teratur, misalnya bak mandi, vas bunga, tempat minum di sangkar burung dan benda lainnya di sekitar kamar, rumah, kelas ataupun ruang bermain.

Tempat-tempat tersebut juga harus ditutup agar nyamuk tidak dapat masuk dan bertelur

Sedangkan tempat yang dapat menampung air dan tidak digunakan lagi sebaiknya dikubur.

Misalnya seperti kaleng bekas, plastik bekas dan benda-benda lain di halaman rumah.

"3M harus dilakukan oleh segenap warga masyarakat secara teratur, mandiri dan terkoordinasi," paparnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved