TRIBUN JOGJA WIKI

TRIBUN JOGJA WIKI: Masjid Gedhe Kauman

Tanah tempat dibangunnya masjid ini merupakan tanah milik Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Masjid Gedhe Kauman yang berada di Kampung Kauman Kelurahan Ngupasan Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta. 

Dinding masjid terbuat dari susunan batu putih dan lantainya dari batu kali hitam.

Proses Pembangunan

Masjid ini nama awalnya adalah Masjid Gedhe, Kemudian diubah menjadi Masjid Agung.

Nama ini berubah lagi menjadi Masjid Besar. Kemudian berubah lagi menjadi Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah masjid ini dibangun terjadi penambahan kapasitas karena jumlah jamaah yang beribadah melebihi kapasitas masjid.

Oleh karena itu pada 1775 bangunan masjid ditambah dengan serambi yang disebut serambi masjid Gedhe pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I.

Serambi masjid yang dibangun juga difungsikan sebagai 'al Mahkamah al Kabiroh' tepatnya dibangun pada hari Kamis Kliwon, 20 Syawal 1189 H/ 1775 M.

Ratusan Peserta Tampil di Gema Takbir 2019 Mesjid Gedhe Kauman

Selain digunakan untuk Sholat, serambi juga berfungsi sebagai tempat pertemuan alim ulama, pengajian, mahkamah untuk mengadili terdakwa dalam masalah keagamaan, pernikahan, perceraian dan pembagian waris.

Saat itu, dibangun juga Pagongan (Pa: tempat, Gong-an: salah satu alat gamelan) yang berarti tempat gamelan, gamelan tersebut dimainkan pada setiap bulan Maulid Nabi.

Konon gamelan sekaten memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat sehingga membuat orang tertarik untuk mengenal, kemudian memeluk agama Islam dengan kemauan sendiri.

Kata sekaten berasal dari bahasa arab yaitu Syahadatain yang artinya dua kalimat syahadat.

Sementara itu, setelah 10 tahun tidak memiliki gerbang, akhirnya pada tahun 1840, tepatnya pada Senin 23 Syuro tahun Dal 1767 Jw/ Muharram 1255 H 1840 M dibangun pintu Gerbang Masjid atau Regol dengan nama Gapura yang diambil dari kata Ghofuro (ampunan dari dosa).

Gapura ini dibangun saat pemerintahan Hamengkubuwono V, maknanya apabila orang yang masuk melalui Gapuro dan berniat baik memasuki Islam, maka dosanya diampuni Allah SWT.

Pada tahun 1862 dimulai pemugaran sirap dan selesai pada tahun 1863.

Pada tahun 1867 Yogyakarta dilanda Gempa bumi yang mengakibatkan runtuhnya serambi masjid Gedhe.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved