Kota Yogyakarta
Kampung Wisata Mesti Tonjolkan Budaya Lokal
Keberadaan kampung yang ditetapkan pada tahun lalu itu, bertujuan untuk menetapkan prioritas destinasi dengan menekankan karakter pembangunan dari wil
Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGA.COM, YOGYA - Paniradya Keistimewaan DIY, mendorong pemerintah kota Yogyakarta untuk mengoptimalkan penggunaan dana keistimewaan dengan cermat.
Pengalokasian dana yang kini masuk dalam kategori bentuk bantuan keuangan khusus (BKK) itu, diharapkan menyentuh tujuan utama penggunaannya serta mampu berdampak bagi pemberdayaan masyarakat.
"Kemudian jangan lupa juga dengan unsur kewilayahan. Kota kan sudah punya kampung wisata, saya juga usul agar lebih dikembangkan pada sisi budaya," kata Paniradyapati DIY, Beny Suharsono belum lama ini.
• Paniradya Keistimewaan DIY Lakukan Sinkronisasi dengan Pemkot Yogya
Menurut dia, pengembangan kampung berbasis wisata dapat dipadukan dengan unsur-unsur kebudayan guna menarik kunjungan wisata serta memperkuat identitas keistimewaan.
Selain itu, Beny mengatakan pengembangan konsep kampung wisata yang telah digulirkan Pemkot perlu evaluasi dan juga diperluas menjadi kampung yang berbasis budaya.
"Jadi nanti bisa lebih diperkuat sinkronisasi lintas sektor. Kalau budaya kan jangkauan sektor lainnya juga lebih luas," ucap dia.
Beny menambahkan, dalam konsep kampung wisata beberapa sektor yang berkembang cenderung lebih mengarah pada industri pariwisata saja.
Namun, jika basis pengelolaan kampung menekankan pada konsep kebudayaan, menurut dia sejumlah sektor maupun pengembangan identitas lainnnya akan ikut tumbuh.
• Paniradya Keistimewaan DIY Anggarkan 1,07 % dari Danais untuk Kelembagaan
"Kalau budaya kan wisata juga bisa masuk, perdagangan dan industri kreatif maupun kearifan lokal lain yang dipunyai Yogya," imbuhnya.
Diketahui, saat ini sedikitnya terdapat 17 kampung wisata yang diprioritaskan di kota Yogyakarta.
Keberadaan kampung yang ditetapkan pada tahun lalu itu, bertujuan untuk menetapkan prioritas destinasi dengan menekankan karakter pembangunan dari wilayah setempat.
Adapun sejumlah kampung yang diprioritaskan untuk dikembangkan itu yakni meliputi Kampung Pandeyan, Kadipaten, Dipowinatan, Tamansari, Kauman, Dewobronto, Sayidan, dan Purbayan. Kemudian ada Kampung Prenggan, Rejowinangun, Warungboto, Tahunan, Cokrodiningratan, Sekar Niti Gedong Kiwo, Becak Maju, dan Sosromenduran.
Pada masa libur Natal dan Tahun baru lalu, Dispar juga telah melakukan uji coba kepada lima kampung wisata dengan menawarkan beberapa paket wisata kepada wisatawan.
Kawasan Kotabaru yang sejak tahun lalu telah dilakukan penataan juga ikut serta dalam program paket wisata tersebut.
Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, wilayah Kotabaru digadang-gadang bakal menjadi wisata alternatif selain Malioboro.
Pihaknya juga telah mempersiapkan penyesuaian terhadap perkembangan wilayah tersebut.
"Kotabaru ini kan lebih dikenal sebagai pengembangan dari kawasan cagar budaya di Jogja. Jadi kita harapkan pengembangan konsep yang dilakukan juga lebih menitikberatkan pada unsur tradisi dan juga budaya," ucap dia. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-kota-yogya_20180731_185714.jpg)