Yogyakarta
Sianywati Olah Kue Keranjang Seuai Resep Warisan
Selain untuk oleh-oleh dan dibagikan kepada keluarga, kue keranjang merupakan persembahan untuk para dewa.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kue keranjang merupakan kue khas Imlek yang selalu diburu warga keturunan Tionghoa.
Tak heran produsen kue keranjang pun harus kerja ekstra untuk memenuhi pesanan.
Satu diantaranya Sianywati (70).
Sejak awal Januari lalu, rumahnya di Jalan Tukangan No 43, Tegal Panggung, Danurejan, Yogyakarta sibuk.
Ia dan 8 pekerja lainnya mulai membuat adonan kue keranjang dengan wadah ukuran jumbo.
Setiap harinya ia membuat 100 kue keranjang, meskipun masih sepi pesanan.
Hal itu dilakukan agar menjelang Imlek, ia hanya tinggal mengemasi dan mengirimkan pada langganannya.
• Rahasia Buat Kue Keranjang Khas Imlek Supaya Enak, Pikiran Harus Tenang
"Kita buat 100 per hari. Memang kita buat bertahap, pokoknya setiap hari paling tidak ada 100. Kalau masih awal bulan kan sepi, mulai ramai ya seminggu menjelang Imlek. Ini kita tinggal mengirim saja, sudah nggak buat lagi," katanya saat ditemui Tribun Jogja di rumahnya, Selasa (21/01/2020).
Meski tak selincah dulu, Sianywati tetap memantau pekerjaan para karyawan.
Ia ingin memastikan kue keranjangnya tetap berkualitas.
Bisnis yang sudah digelutinya sejak remaja tersebut merupakan bisnis turun-temurun dari ayahnya.
Setelah ayahnya meninggal, ia dan dua kakaknya yang melanjutkan bisnis kue keranjang.
"Sudah sejak 1960an. Dulu yang mulai ayah saya, anak-anaknya ya ikut membantu. Setelah ayah saya meninggal, saya dan kakak yang melanjutkan," jelasnya.
Untuk membuat kue keranjang, ungkapnya, tidak boleh sembarangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/suasana-rumah-sianywati-70-salah-satu-produsen-kue-keranjang-di-kota-yogyakarta.jpg)