Imlek 2019

Rahasia Buat Kue Keranjang Khas Imlek Supaya Enak, Pikiran Harus Tenang

Rahasia Buat Kue Keranjang Khas Imlek Supaya Enak, Pikiran Harus Tenang

Rahasia Buat Kue Keranjang Khas Imlek Supaya Enak, Pikiran Harus Tenang
Tribun Jogja/ Christi Mahatma Wardhani
Sianiwati (70) produsen kue keranjang khas Imlek sedang memeriksa kue yang baru saja dimasak di rumahnya Jalan Tukangan, Tegal, Panggung Danurejan Yogyakarta, Minggu (27/1/2019) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM - Sekilas tak ada yang berbeda dari rumah yang terletak di Jalan Tulangan No 43, Tegal Panggung, Danurejan, Yogyakarta.

Namun ketika memasukinya tampak beberapa orang tengah sibuk mengemasi kue berwana coklat pekat.

Kue tersebut umumnya menjadi incaran saat Imlek tiba. Ya, kue keranjang namanya.

Di rumah itu, Sianiwati setia menekuni bisnis turun temurun itu. Meski tak lagi muda,ia masih lincah berputar kesana kemari untuk memastikan kualitas kue produksinya.

Sebagai kue yang digunakan untuk sembahyang, bahan yang digunakan tentu harus dari bahan pilihan. Beras ketan yang dipilih adalah jenis Tolo, harus yang terbaik pula.

Gula pasir pun harus dimasak sangat lama, proses pengukusan pun bisa mencapai 9 jam. Dan semua proses yang dilalui masih menggunakan tenaga manusia.

"Ini turun temurun, dulu dari kakek. Saya membantu sejak masih muda sama papa dan mama dulu. Karena orangtua sudah meninggal, kami anak-anaknya yang melanjutkan. Semua masih pake tangan, tidak ada yang pakai mesin. Dulu diajari pake tangan, ya sekarang sama," kata nenek berusia 70 tahun itu.

Baca: Di Tangan Lulusan SMK ini, Bahan Bekas Disulap Jadi Barang Bernilai Ekonomis

Tidak hanya bahan yang berkualitas, yang membuat pun harus suci. Sebelum mulai membuat, ia berdoa terlebih dahulu. Meminta pada Tuhan agar semua diberi kelancaran.

Perempuan yang sedang menstruasi tidak diperbolehkan membuat kue keranjang. Oleh sebab itu, Sianiwati mempekerjakan enam orang laki-laki untuk membuat adonan (nguleni).

Perasaan si pembuat ternyata juga mempengaruhi hasil akhir. Jika si pembuat dalam kondisi berduka, maka kue keranjang tidak bisa kenyal, bahkan bisa lebih buruk hingga harus dibuang.

"Karena kue keranjang ini untuk sembahyang, yang membuat juga harus suci. Harus sembayang dulu sebelum membuat. Yang membuat itu juga tidak bisa kalau sedang berduka, nanti tidak jadi. Akhirnya ya harus dibuang. Jadi kalau membuat itu harus tenang," jelasnya. (tribunjogja)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved