Breaking News:

Perang Dagang AS-China, Pariwisata Bali Meredup

Donald Trump bisa dibilang menjadi salah satu biang keladi mengapa Bali tak lagi menjadi primadona wisata dunia. Masalah muncul di pulau dengan

ist
Taman Ujung Water Palace, Karangasem, Bali kerap dipadati turis di high season 

TRIBUNJOGJA.COM - Donald Trump bisa dibilang menjadi salah satu biang keladi mengapa Bali tak lagi menjadi primadona wisata dunia.

Masalah muncul di pulau dengan julukan Pulau Dewata itu dan tampaknya ada banyak hal yang harus disalahkan, yakni Donald Trump, wisata murah yang ditujukan untuk pasar Cina, dan polusi yang semakin memburuk. 

Pengikut Sinuhun Totok Santoso di Kerajaan Agung Sejagat Banyak dari Yogyakarta

Jumlah wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Bali tahun 2019 lalu turun 35 persen. Tentu, angka ini berbahaya.

Gerbang Surga di Pura Lempuyang, tujuan wisata populer di Bali. Lebih dari 6,5 juta orang mengunjungi pulau itu pada 2018.
Gerbang Surga di Pura Lempuyang, tujuan wisata populer di Bali. Lebih dari 6,5 juta orang mengunjungi pulau itu pada 2018. (Handout)

Sebab, turis Tiongkok adalah mereka yang menjadi sumber pengunjung utama pulau itu, setelah Australia.

Menurut Bali Tourism Board, jumlah keseluruhan pengunjung ke pulau itu selama 10 bulan pertama tahun ini tumbuh hanya 1,2 persen, dibandingkan dengan lebih dari 15 persen pada 2017. 

Lebih dari 6,5 juta orang mengunjungi Bali pada 2018,  tanpa jaminan bahwa tujuan wisata populer akan cocok dengan nomor ini untuk 2019.

Penurunan dramatis ini menjadi bagian dari pelambatan pariwisata di wilayah daratan Tiongkok, yang menurut para analis dan pelaku industri dipicu oleh perang dagang AS-Cina yang diprakarsai oleh Presiden AS Donald Trump

Konon, perlambatan seperti ini tak hanya dirasakan Indonesia, tapi juga negara tetangga lain, seperti Thailand.

Pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Jumlah wisatawan dari Tiongkok telah turun 35 persen
Pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Jumlah wisatawan dari Tiongkok telah turun 35 persen (Reuters)

Melansir South Cina Morning Post, penurunan itu memang terjadi karena perang dagang antara Amerika dan Cina, bukan karena krisis politik di Hong Kong.

Pada 2018, pemerintah Tiongkok masih memberikan insentif bagi warga untuk melakukan perjalanan, tetapi program ini dihapus sejak 2019.

Halaman
1234
Penulis: Bunga Kartikasari
Editor: Mona Kriesdinar
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved