Kenali Post-Holiday Syndrome, Depresi yang Terjadi Setelah Masa Libur Berakhir

Kenali Post-holiday syndrome,depresi yang terjadi setelah orang-orang menikmati liburan.Depresi ini bisa menyebabkan perubahan perasaan.

Kenali Post-Holiday Syndrome, Depresi yang Terjadi Setelah Masa Libur Berakhir
wifivox.com
wifivox.com, Ilustrasi orang Post-Holiday Syndrome, depresi yang terjadi setelah liburan berakhir 

TRIBUNJOGJA.COM - Sebagian orang tentu merasa bahagia dan rileks ketika liburan berlangsung dan menghabiskan waktu berbeda dari urusan pekerjaan.

Namun, sebagian orang menganggap liburan seperti roller coaster yang berada di fase turun. Entah karena ekspektasi tinggi ada rasa ketakutan kembali memasuki fase-fase kesepian saat bekerja.

Sindrom Kelelahan Kronis Bikin Lemas dan Tak Bertenaga, Pelajari Penyebabnya

Mengutip dari Grid Health, beberapa ahli mengatakan ada depresi setelah liburan yang dirasakan beberapa orang. Post-holiday syndrome biasa terjadi pada orang-orang setelah liburan.

Banyak yang Terjangkit Sindrom Takut Kehabisan Baterai Ponsel, Kamu Kah Salah Satunya?

Ada beberapa perubahan perasaan seperti perasaan sedih, rasa bersalah, marah, dan tidak bahagia. Gangguan emosi ini diperparah dengan gejala lain seperti :

  • Sakit kepala
  • Insomnia
  • Gelisah
  • Penambahan atau penurunan berat badan
  • Agitasi, aktivitas motorik yang berlebih akibat ketegangan
Ilustrasi liburan di alam
Ilustrasi liburan di alam (instagram @explorejogja)

Perasaan sedih karena kembali ke rutinitas awal ini dimulai dengan rasa lelah dan tidak siap untuk menghadapi kenyataan bekerja kembali.

Sindrom ini mirip dengan seasonal affective disorder (SAD). Mengutip dari Kompas.com, sindrom ini adalah gangguan emosional yang terjadi pada waktu tertentu. Contohnya saja setelah menikah ada rasa kaget karena euforia pesta pernikahan telah berakhir.

Sama seperti rasa kaget setelah menikah, masa liburan berakhir akan muncul depresi dan murung.

Dikutip dari The New Daily, menurut Dr. Melissa Weinberg, seorang psikolog dari San Francisco, rasa menyenangkan saat liburan itu hanya ilusi yang dibuat oleh otak.

Seburuk apapun pengalaman berlibur, otak akan merekam ingatan lebih banyak menikmati liburan daripada pengalaman buruk.

Otak dirancang untuk merekam berbagai kegiatan yang dilakukan secara konsisten, seperti rutinitas bekerja setiap hari.

Halaman
12
Penulis: Dwi Latifatul Fajri
Editor: Mona Kriesdinar
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved