Banyak yang Terjangkit Sindrom 'Takut Kehabisan Baterai Ponsel', Kamu Kah Salah Satunya?

Dalam survey yang dilakukan oleh O2, terungkap pula bahwa 40 persen responden setidaknya membawa satu atau lebih power bank

Banyak yang Terjangkit Sindrom 'Takut Kehabisan Baterai Ponsel', Kamu Kah Salah Satunya?
IST/Nutrition Review
Ilustrasi Menatap layar ponsel dalam ruang gelap 

TRIBUNJOGJA.com - Ponsel menjadi suatu kebutuhan yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Wajar saja, berbagai macam tugas dapat diselesaikan lewat gawai canggih ini. Mulai dari belanja, memilih menu makanan, berkomunikasi dengan teman, mencari teman baru, bahkan menjadi pasangan hidup bisa dilakukan melalui ponsel.

Wajar saja jika kemudian saat ini muncul sindroma baru, yang disebut sindrom takut kehabisan baterai ponsel. Sebuah kondisi kekhawatiran dan kepanikan yang berlebihan menghadapi situasi saat baterai ponsel mulai menipis lantaran seseorang sudah sangat tergantung dengan ponselnya.

Ini diketahui lewat sebuah survey.

Nyaris separuh dari responden menyebutkan bahwa perasan takut kehabisan baterai ponsel ini kian parah dalam lima tahun terakhir.

Dalam survey yang dilakukan oleh O2, terungkap pula bahwa 40 persen responden setidaknya membawa satu atau lebih power bank yang digunakan setiap kali indikator baterai mulai menunjukan tanda-tanda berkurang.

Temuan lainnya dari survey yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 itu menyebutkan bahwa perasaan takut kehabisan baterai juga sama besarnya dengan ketakutan seseorang jauh dari ponsel itu sendiri.

Mereka menyebutnya dengan istilah 'Kecemasan Terpisah dari Ponsel'.

Bagi banyak, mengunggah status di facebook, twitter maupun mengunggah foto di instagram merupakan bagian dari pengalaman kehidupan mereka sehari-hari. Itu merupakan salah satu media untuk memperlihatkan eksistensi dan memberi pesan bahwa 'aku ada'. Sehingga jika mereka hidup tanpa ponsel, maka mereka merasakan seperti halnya kehilangan salah satu anggota badan mereka.

Periset dari Univesitas Sungkyunkwan Hongkong menyebut istilah ini dengan sebutan Nomophobia.

Hal ini akan semakin parah lantaran ponsel akan semakin personal.

Ciri-cirinya, seseorang tak pernah mematikan ponselnya, memeriksa ponsel terus menerus, mengisi baterai ponsel tanpa henti, dan bagi mereka yang sering membawa ponselnya ke kamar mandi.

Periset memperingatkan bahwa tren ini cenderung makin parah. (*)

Penulis: mon
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved