Travel
Museum TNI AD Dharma Wiratama Hadirkan Atmosfer Milenial Berbasis IT
Memasuki lobi museum pengunjung disambut dengan suasana museum yang kental dengan teknologi digital.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Gaya Lufityanti
Senjata senjata ini dulunya adalah senjata asli alias bukan replika, senjata yang digunakan para pejuang melawan penjajah kala itu.
Senjata senjata ini sebagian adalah hasil rampasan perang.
Di weapon box ini pengunjung bisa berfoto ria karena memang dibuat menjadi satu dari beberapa spot foto yang instagramable.
Seorang pengunjung saat itu adalah Rina Ridarana Sari yang datang bersama teman-temannya.
Mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta asal Aceh ini mengaku kagum dengan berbagai koleksi bersejarah yang ada di museum ini.
• Museum Harus Adaptif Terhadap Perkembangan Zaman
Bayangan Rina berwisata ke museum dengan tata kelola konvesional, yang lebih banyak memajang foto dan keterangan singkat yang lazimnya menyertai sebuah benda koleksi museum sirna sudah.
Rina takjub, rupanya Museum TNI AD ini bisa menyajikan koleksi dan cerita sejarah dengan apik berbasis teknologi masa kini yang kental dengan teknologi digital.
"Koleksinya ada yang dipajang dengan karya seni instalasi ruang. masuk ke museum ini seperti berada di sebuah instalasi seni besar yang di dalamnya kita disajikan sejarah," kata Rina.
Rina dan pengunjung lain pun nampak asik dan terlihat sesekali bertanya pada Sukarjo selaku edukator yang mendampingi pengunjung saat itu.
Sukarjo pun membawa pengunjung dari satu ruang ke ruangan yang lainnya.
Secara keseluruhan, di museum ini menjelaskan sejarah delapan palagan atau pertempuran yang terjadi paska Indonesia merdeka.
Mulai dari Palagan Ambarawa, Semarang, Surabaya, Bandung, Medan, Makasar, Bali, serta Palagan Palembang.
Masing-masing disajikan dengan visual yang menarik dilengkapi dengan mural, foto hingga diorama yang menjelaskan bagaimana masing-masing pertempuran tersebut sangat berarti bagi sejarah bangsa Indonesia.
• Ribuan Pelajar Ramaikan Lomba Dakon di Museum History Of Java Bantul
Bisa Melihat Film Dokumenter
Di Museum yang buka setiap hari Senin hingga Jumat mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00 WIB dan gratis untuk umum ini, pengunjung bisa menyaksikan film dokumenter di sebuah ruang aksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/museum-tni-ad-dharma-wiratamahadirkan-atmosfer-milenial-berbasis-it.jpg)