Yogyakarta
Satker P2JN Sebut Geolistrik dan Peta Luweng Diperlukan untuk Proyek JJLS
Project Officer proyek pembangunan jalan baru Jerukwudel-Baran-Duwet, Juniar Perkasa menyebut hasil identifikasi ada dua titik luweng di ruas jalur J
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Uji geolistrik untuk mengetahui adanya luweng dan peta luweng pun diperlukan dalam pengerjaan JJLS. Pihak Satuan Kerja (Satker) Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) menyebut terus mengidentifikasi keberadaan luweng atau sungai bawah tanah dalam pengerjaan JJLS.
Hal ini lantaran keberadaan luweng ini jangan sampai berada di badan JJLS.
Project Officer proyek pembangunan jalan baru Jerukwudel-Baran-Duwet, Juniar Perkasa menyebut hasil identifikasi ada dua titik luweng di ruas jalur Jerukwudel-Baran-Duwet yang dikerjakan saat ini.
• Uji Geolistrik di Kelok 18 dan JJLS Dianggarkan Rp 1,2 Miliar
Pihaknya juga akan menginventarisir lagi terkait dengan luweng ini.
“Kami coba inventarisir kami konsultasi dengan UPN karena informasinya UPN punya peta luweng, Kalau diperlukan kami akan pengujian geolistrik untuk menetukan apakah ada luweng atau tidak,” ujarnya.
Juniar memaparkan, di proyek dengan panjang 10, 6 kilometer ini memang dimungkinkan banyak luweng.
Hal ini karena medan yang dilalui adalah kawasan perbukitan karst.
"Jika tidak diinventarisir akan menjadi kendala tersendiri. Luweng itu mungkin permukaannya kecil tetapi, kedalamannya khan tidak diketahui. Kalau rongganya cukup besar maka akan berbahaya kalau di atasnya adalah badan jalan, bisa ambles," jelasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sejumlah-alat-berat-tengah-digunakan-untuk-meratakan-dan-mengepras-bukit-kapur.jpg)