Yogyakarta
Komisi B DPRD DIY Sebut Kasus Kecelakaan Trans Jogja Ibarat Gunung Es
Komisi B DPRD DIY mengevaluasi manajemen pengelolaan bus Trans Jogja yang dikelola oleh PT AMI.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komisi B DPRD DIY mengevaluasi manajemen pengelolaan bus Trans Jogja yang dikelola oleh PT AMI.
Mereka menyebutkan adanya mismanajemen pada tubuh perusahaan plat merah ini.
"Persoalan yang terjadi ini ibarat gunung es saja. Kami melihat ada ketidakberesan di PT AMI, " kata Ketua Komisi B DPRD DIY, Danang Wahyu Broto di DPRD DIY, Selasa (3/12/2019).
Danang menyebutkan jika kecelakaan yang terjadi dan melibatkan bus Trans Jogja bukan sekadar sopir ugal-ugalan.
• PT AMI Sebut Rutin Lakukan Pembinaan
Pihaknya pun berharap agar persoalan ini bisa diselesaikan secara bersama oleh dewan maupun PT AMI.
"Maka kami harus ambil langkah taktis terkait dengan ini. Kami amati cukup lama dan ada pelayanan publik yang bolong dan carut marut," jelasnya.
Hal ini, kata Danang bisa diselesaikan dengan beberapa hal, di antaranya dengan perbaikan manajemen.
Jika dimungkinkan adanya penggantian direksi pun bisa dilaksanakan.
Dia juga menambahkan transportasi publik harus dilaksanakan secara baik.
Menurutnya dengan subsidi yang diberikan ini juga harus dilaksanakan dengan kapabel.
• ORI DIY Duga Head-time dan Waktu Istirahat Pendek Sebabkan Sopir Trans Jogja Ngebut
"Subsidi besar kalau engga kompeten dan kapabel sama aja," ulasnya.
Direktur PT AMI, Dyah Puspitasari menjelaskan, adanya miskomunikasi di internal dan pemanggilan pada pihaknya bukan terkait dengan evaluasi bus Trans Jogja.
Tetapi, keseluruhan bidang yang dicakup PT AMI.
"Tadi sepertinya ada miskomunikasi internal kok. Jadi bukan evaluasi Trans Jogja tapi keseluruhan. Kami pending raker khusus aja," kata Dyah.
Sebelumnya, Dyah mengatakan, pihaknya sebagai BUMD yang berperan sebagai kepanjangan tangan pemerintah pun berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik.
• Benarkah Polusi Udara Merusak Mata?
Dyah juga menyebutkan untuk melakukan maintenance pada transportasi publik pun bukan sesuatu yang mudah.
"2016 ketika kami mulai mengelola pun mendapat penolakan. Ada yang bertanya mengapa di bawah bendera PT AMI. Ini hal yang berat," katanya.
Dia juga menegaskan kasus kecelakaan yang menewaskan Aji Pradana (19) tahun ini juga menjadi pelajaran bagi perusahaannya.
Dia juga mengaku tidak alergi dengan penilaian masyarakat mengeni bus yang ugal-ugalan ataupun marah dengan pelayanan.
"Ini justru kalau masyarakat marah, berarti mereka punya harapan pada kami," kata Dyah. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-yogyakarta_20180911_145553.jpg)