Kota Yogya

Angka Kehamilan Tidak Diinginkan di Kota Yogya Masih Tinggi

Pada 2018 lalu angka pernikahan dini akibat kasus kehamilan yang tidak diinginkan di wilayah setempat berada di angka 240 kasus.

Angka Kehamilan Tidak Diinginkan di Kota Yogya Masih Tinggi
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Dinas Dalduk dan KB Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Ariyani. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kependudukan dan Keluarga Berencana (Dalduk dan KB) Kota Yogyakarta menyebut, angka pernikahan usia dini, kasus kehamilan yang tidak diinginkan, serta perceraian masih cukup marak di wilayah setempat.

Kepala Dinas Dalduk dan KB Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Ariyani menjelaskan, satu di antara penyebab dari maraknya kasus itu adalah akibat dari kurangnya komunikasi antara orang tua dengan anak.

"Remaja ini kan rasa ingin tahunya besar dan juga penasaran. Di lain sisi orang tua juga masih menganggap tabu pendidikan seks," kata Emma, Kamis (28/11/2019) lalu.

7 Cara Meringankan Nyeri Punggung yang Sering dialami Saat Hamil

Dijelaskannya, peran keluarga sangat penting dalam menekan dan menguatkan ketahanan keluarga.

Komunikasi dan juga pola-pola diskusi dari orang tua kepada anak dimungkinkan dapat menurunkan angka pernikahan usia dini, kasus kehamilan yang tidak diinginkan, serta perceraian.

"Sekarang ini dengan adanya gadget itu kan pola komunikasi menjadi renggang, komunikasi verbal dan langsung kepada anak sangat kurang," imbuhnya.

Kabid Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Dinas Dalduk dan KB, Herristanti mengatakan, pada 2018 lalu angka pernikahan dini akibat kasus kehamilan yang tidak diinginkan di wilayah setempat berada di angka 240 kasus.

UNBOXING KULINER: Snack Hits Super Ekonomis di Jogja

Dia mengklaim, angka itu dari tahun ke tahun mengalami penurunan serta cenderung fluktuatif.

Hingga Juni 2019 ini, angka kehamilan yang tidak diinginkan tersebut menjadi 74 kasus.

"Itu semua terjadi pada mereka yang berusia 18 tahun," imbuhnya.

Herristanti menjelaskan, perlu koordinasi antar OPD guna menekan angka tersebut, semisal Dinsos, Dinkes, serta DPMPA yang juga menangani permasalahan remaja.

Selain itu, pihaknya juga berusaha menguatkan komunikasi informasi edukasi kepada masyarakat terutama keluarga agar angka itu dapat ditekan. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved