Pendidikan
Tim Peneliti UGM Kembangkan Teknologi Radiografi Sinar-X Digital
Tim peneliti UGM yang dipimpin oleh Dr. Gede Bayu Suparta dari Departemen Fisika FMIPA berhasil mengembangkan teknologi radiografi sinar-x digital unt
Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Inovasi kembali dilahirkan oleh UGM.
Kali ini, tim peneliti UGM yang dipimpin oleh Dr. Gede Bayu Suparta dari Departemen Fisika FMIPA berhasil mengembangkan teknologi radiografi sinar-x digital untuk diagnosa medis.
Gede menerangkan, teknologi radiografi sinar-x digital yang dikembangkan ini menggunakan layar fluoresens dan kamera digital, dan disebut teknologi Radiografi Sinar-x Fluoresens Digital (RSFD).
Sementara kinerja teknologi RSFD setara dengan teknologi Direct Digital Radiography (DDR) yang menggunakan flat detektor atau disebut juga Radiografi Flat Detektor (RFD).
• UGM Mewisuda 1.912 Lulusan Sarjana dan Diploma
Menurutnya, fasilitas DDR atau FDR ini sangat diidamkan oleh semua rumah sakit di Indonesia, akan tetapi karena harganya yang relatif mahal maka tidak semua rumah sakit bisa memilikinya.
“Karena harga alat DDR relatif ini sangat mahal, maka tidak semua rumah sakit dapat memiliki. Implikasinya biaya yang harus dibayar pasien menjadi tinggi,” ungkapnya.
Hal tersebutlah yang membuat pihaknya mengembangkan teknologi radiografi sinar-x digital yang diberi nama Madeena (Made in Indonesia)
Menurutnya, dengan adanya alat rontgen buatannya, menjadikan biaya untuk membeli alat ini bisa lebih ditekan sehingga masyarakat yang harus mendapatkan layanan rontgen bisa cepat diambil tindakan.
Selain biayanya relatif terjangkau, kelebihan lain yang dimiliki alat ini yakni bisa diakses real time tanpa harus menunggu cetakan manual film seperti alat rongten konvensional lainnya.
• UGM dan Kagama Jalin Kerja Sama dengan Kabupaten Kampar untuk Penguatan Pembangunan Daerah
Adanya dukungan teknologi komputerisasi, Madeena juga bisa diakses dokter tanpa harus berada di lokasi radiologi.
Proses radiografi dapat sangat cepat dan dapat diselenggarakan melalui kehadiran radiographer, fisika medis dan dokter radiologis secara on-line.
“Jadi kehadiran fisik di suatu instansi kesehatan dapat direduksi. Selain itu Proses radiografi menjadi sangat aman bagi pasien, pekerja radiasi, perawat dan lingkungan rumah sakit karena paparanradiasi yang diberikan mencapai 1/100 dari nilai ambang batas yang ditetapkan BAPETEN ,” terangnya.
Gede menyebutkan, alat ini telah diluncurkan pada awal November 2019 lalu, yang mana sebelumnya untuk bisa mengembangkan alat ini dibutuhkan waktu yang cukup panjang, yakni sejak tahun 1989.
Di tahun 1989 itulah dia bersama tim peneliti departemen FISIKA FMIPA UGM mulai melakukan riset bidang radiografi digital.
Saat itu, teknologi komputer, teknologi kamera digital dan pemrograman belum secanggih saat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/teknologi-radiografi-sinar-x-digital-untuk-diagnosa-medis.jpg)