Makna Filosofis di Balik Permainan Tradisional Dakon

Permainan tradisional dakon tersebut dipilih karena sarat dengan nilai filosofi.

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Azka Ramadhan
Peserta anak dalam Lomba Dakon Bupati Bantul Cup 2019 di komplek Pyramid Cafe, Sewon, Bantul, Sabtu (16/11/19) siang. 

"Di Jawa, khususnya Jawa Tengah, orang mengenal dakon dengan filosofi kejujuran, serta ketekunan yang sangat kental. Dakon ini memiliki fungsi pelatihan bagi sang anak untuk bekal saat dewasa nanti," ujarnya.

Ia mengatakan, dalam permainannya, dakon, bisa melatih anak untuk senantiasa terbuka, bersikap jujur, berempati, sekaligus menjadi ahli srategi handal, dengan teknik perhitungan yang tepat.

Pasalnya, saat berlaga, pemain dituntut menimbang, serta mengambil keputusan dalam waktu singkat.

"Ya, karena butuh taktik agar tidak berhenti di lubang kosong. Sebab, kalau sampai berhenti di lubang yang kosong, kita akan mati," terangnya.

Namun, yang paling utama, lewat gelaran ini, History of Java Museum ingin menjadi pionir kebangkitan permainan tradisional, yang diakuinya semakin tenggelam karena kalah pamor dengan game kekinian.

Tak bertepuk sebelah tangan, animo para peserta untuk ambil bagian pun tergolong tinggi.

"Pesertanya sekitar 2200 dan sebagian besar berasal dari Bantul. Kita ingin menghidupkan kembali prmainan-permainan tradisional, khususnya dakon, supaya generasi muda tidak tumbuh menjadi pribadi yang individualistis, karena hanya berteman dengan gadgetnya saja," pungkas Bambang. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved