Jogja Republik Onthel 2019, Mengembalikan Budaya Bersepeda di Yogyakarta

Jogja Republik Onthel 2019, Mengembalika Budaya Bersepeda di Kota Yogyakarta

Jogja Republik Onthel 2019,  Mengembalikan Budaya Bersepeda di Yogyakarta
Tribun Jogja/Yosef Leon Pinsker
Deretan sepeda onthel yang mejeng di Museum Benteng Vredeburg, Sabtu (9/11/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Segala sesuatu yang bersifat lawas memang menarik perhatian. Bukan hanya barang dan juga koleksi lainnya, sebuah lagu pun mendengungkan demikian.

Tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi, garapan Anggun C Sasmi era 1990 an silam.

Pengunjung Museum Benteng Vredeburg tumpah ruah pada Sabtu (9/11/2019) pagi.

Antrean panjang pengunjung mengular tak seperti pada hari biasa. Momen tersebut bertepatan dengan kegiatan bertajuk Jogja Republik Onthel (JRO) 2019 yang dilaksanakan sampai Minggu (10/11/2019).

Acap kali kegiatan yang bertemakan jaman dulu (jadul) kerap menarik minat masyarakat dan juga para wisatawan.

JRO 2019 merupakan kegiatan dwi tahunan yang digelar oleh kolaborasi sekumpulan komunitas di Yogyakarta.

Harga Tiket DWP 2019 & Line Up: Ada Martin Garrix, Skrillex, Zedd, Calvin Harris Hingga Yellow Claw

Selain untuk mengenalkan potensi ekonomi dari barang-barang lawas, acara ini juga bertujuan untuk mengenal dan membumikan manfaat budaya bersepeda, terkhusus di kawasan kota.

Tampilan Museum Benteng Vredeburg tentu tidak lagi sama dengan kehadiran kegiatan ini.

Sederet sepeda onthel lawas pabrikan Eropa dan mancanegara mejeng di lokasi tersebut.

Puluhan onthel berjenis beken seperti Burgers, Columbia, Dames, hingga Gazelle keluaran Belanda tahun 1995 jadi objek swafoto para pengunjung yang hadir.

"Tujuan kita pada acara ini ingin mengenalkan budaya kesejarahan, mencintai budaya bersepeda, dan juga edukasi wisata lewat kemasan acara yang menarik," kata Presiden JRO, Muntowil.

Menurutnya, perwujudan Jogja sebagai kota sepeda mungkin perlu dikaji dan dilestarikan. Budaya lalu lintas yang semrawut, dianggapnya merupakan bentuk salah kaprah dan bisa diminimalkan dan dirubah dengan perilaku bersepeda.

"Ada etika toleransi dan kenyamanan yang dijunjung seseorang ketika mengayuh sepedanya saat berlalu lintas," kata Towil.

Diharapkan, ada spirit yang terbangun dengan kegiatan ini. Yakni berusaha mengajak masyarakat untuk lebih manusiawi dengan nilai-nilai yang dikandung dari aktivitas bersepeda.

"Ini penting sekali untuk menyemai bibit kemanusiaan dan edukasi kepada masyakarat tentang keramahan dan etika yang dikandung dalam bersepeda," imbuh dia. (Tribunjogja/Yosef Leon)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved