Nasional

Hari Wayang Sedunia di Magelang Dirayakan dengan Kirab 108 Wayang di Candi Borobudur

Eko mengatakan, tujuan laku wayang Candi Borobudur karena candi ini dianggap sebagai ibunya wayang. Wayang telah tergambar di dalam candi dan juga di

Hari Wayang Sedunia di Magelang Dirayakan dengan Kirab 108 Wayang di Candi Borobudur
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Anak-anak ikut kirab wayang pada ajang World Wayang Way Borobudur, Kamis (7/11/2019). Mereka membawa wayang dan mengkirabnya dari Museum Wayang di Pondok Tingal menuju Pelataran Candi Borobudur. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Ratusan orang ikut serta dalam kirab wayang pada ajang World Wayang Way Borobudur, Kamis (7/11/2019).  

Dari yang tua sampai anak-anak, mereka membawa wayang dan mengkirabnya dari Museum Wayang di Pondok Tingal menuju Pelataran Candi Borobudur.

Festival ini diadakan untuk memperingati Hari Wayang Sedunia dan mempromosikan wayang agar terus lestari.

Mengunjungi Museum Wayang Boediardjo yang Simpan Ratusan Koleksi Wayang Antik nan Bernilai Tinggi

“Ini adalah hari dan bulan bakti wayang. Kami mengadakan sebuah festival yang bertajuk World Wayang Way yang artinya bahwa festival ini, menurut saya akan berjalan lama sekali karena wayang sebagai jalan hidup,” kata Eko Sunyoto, panitia World Wayang Way saat ditemui di Pelataran Candi Borobudur, Kamis (7/11/2019).

Jalannya kirab dimulai dari Museum Wayang, di Hotel Pondok Tingal.

Rombongan kirab sebanyak 108 orang terdiri dari anak-anak, remaja hingga orang tua ini membawa wayang dan berjalan dalam hening menuju candi.

Ada wayang 108 wayang yang dibawa merupakan wayang kulit dan wayang kardus.

Jumlah wayang sebanyak 108 ini sesuai dengan bentuk kubus Candi Borobudur sebanyak 108.

Sesampainya di pelataran candi, mereka pun berdoa bersama.

7 Dalang Cilik Ikuti Festival Hari Wayang Sedunia

“Kirab ini menjadi sebuah meditasi wayang. Kami bermeditasi dengan perjalanan hening. Ini sebenarnya, bagaimana cara kita memasyarakatkan wayang. Generasi milenial dapat mencoba, mengalami, bagaimana mereka memegang wayang, bagaimana mereka merasakan menjadi dalang,” ujar Eko.

Eko mengatakan, tujuan laku wayang Candi Borobudur karena candi ini dianggap sebagai ibunya wayang. Wayang telah tergambar di dalam candi dan juga di kehidupan sehari-hari.

“Borobudur, ini adalah ibunya wayang. Wayang telah digambarkan disini dalam bentuk kehidupan sehari-hari sebagai suatu keutamaan leluhur yang dipatahkan pada reliefnya. Seperti wayang beber. Kalau beber digambar di kertas atau di kain, wayang digambarkan di relief,” tutur Eko.

Salah satu peserta, Putri (11), turut antusias dengan adanya Kirab Wayang ini. Melalui kegiatan ini, ia dapat belajar lagi tentang wayang, turut serta mempromosikan wayang, dan berbagi pengalaman untuk melihat langsung wayang dan rasanya menjadi dalang.

“Senang sekali ikut dalam kirab wayang. Saya sendiri suka dengan wayang, kini bisa memegang secara langsung dan membawanya ke candi Borobudur,” ujarnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: rfk
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved