Jawa
Tanah Longsor dan Angin Kencang Masih Mengintai Saat Musim Penghujan
Bencana tanah longsor, banjir, angin kencang ataupun puting beliung, masih menjadi potensi kerawanan yang dapat terjadi pada saat musim penghujan.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Gaya Lufityanti
"Tanah longsor dan angin kencang yang paling banyak terjadi. Bencana ini terjadi paling banyak Salaman, Tempuran, Borobudur, dan Secang," ujar Edy.
Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) pun telah dipasang di 27 titik paling rawan tanah longsor.
Tahun 2019 ini, EWS ditambah lagi di tiga titik di wilayah Perbukitan Menoreh, seperti misalnya di Desa Ngargoretno, Salaman.
Wilayah Menoreh ini diketahui memang rawan terjadi longsor.
• BPBD Bantul Imbau Warga Waspadai Potensi Bencana Angin Kencang di Akhir Musim Kemarau
"EWS sudah dipasang 27 titik, yang paling rawan sudah kita pasangi. Penambahan ada tiga alat, dipasang di perbukitan Menoreh," ujar Edy.
Pemerintah Kabupaten Magelang melalui BPBD Kabupaten Magelang dan berbagai instansi pun mempersiapkan diri menghadapi musim penghujan nanti.
Mulai dari personel, logistik, peralatan, disiapkan untuk menhadapi potensi bencana.
"Kami mengimbau kepada warga agar segera melaporkan kepada BPBD atau OPRB jika terjadi tanda-tanda tanah retak atau tanah bergerak. OPRB lakukan langkah pencegahan. Siaga adanya banjir. Pohon-pohon di dekat rumah dikurangi atau dikepras," ujarnya.
Bupati Magelang, Zaenal Arifin, meminta kepada BPBD Kabupaten Magelang untuk melakukan koordinasi kepada seluruh dinas untuk melakukan persiapan menhadapi musim hujan, sehingga dapat siap jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
"Seperti angin puting beliung yang terjadi di Kecamatan Pakis beberapa waktu lalu. Maka nanti BPBD harus segera memetakan titik-titik rawan bencana, sehingga masyarakat selalu waspada," kata Zaenal.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tanah-longsor-dan-angin-kencang-masih-mengintai-saat-musim-penghujan.jpg)