Bantul

Rayakan Bulan Bahasa, Komunitas Teater Bantul Gelar Purnama Sastra Bantul #6

Acara diadakan untuk menghidupkan kembali geliat kesusastraan atau setidaknya agar anak-anak muda tidak kehilangan obor kebijaksanaan.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi membaca syair dalam acara Purnama sastra Bantul, di Kopi Mbako, Bantul, Sabtu (26/10/2019) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Komunitas Teater Bantul (Tebu) bekerjasama dengan Sidat Kamulyan Foundation dan didukung Sanggar Gunung Sewu menyelenggarakan Purnama Sastra Bantul #6 di Kopi Mbako, Jalan Wahidin, Sudiro Husodo, Bantul.

Acara yang dihadiri para pegiat sastra itu, untuk mengisi dan memaknai bulan bahasa di Bulan Oktober, sekaligus peringatan sumpah pemuda.

"Selain itu, kami juga launching antologi puisi dan geguritan, berjudul membincang pesan di sendang pengasihan. Karya ini memuat sembilan penyair dan sembilan geguritan para sastrawan Bantul," kata Inisator Purnama Sastra Bantul, Didik Rohadi, Sabtu (26/10/2019) malam.

Menariknya, selain para pegiat sastra, gelaran purnama sastra yang keenam malam itu terasa spesial, karena dihadiri langsung oleh sejumlah tokoh publik.

Tutorial Make Up ke Sekolah, Tampil Kece Tanpa Kena Marah Guru Ala Tasya Farasya

Antara lain, Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, Wakil Wali kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, serta ICMI Yogyakarta, Herry Zudiyanto,

Hadir juga ketua PDM Bantul, Sahari A Salami dan Sekda Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya.

Mengkolaborasikan antara sastra dengan para pejabat publik, dikatakan Didik, merupakan program pertama dari Purnama Sastra Bantul.

Di mana para pejabat itu merupakan pemangku kebijakan yang berkaitan dengan sastra.

Sastra, menurut Didik, kehadirannya sangat penting di masyarakat, sebagai bagian menyuarakan nilai-nilai kehidupan.

Sastra bisa tumbuh dan berkembang dimana saja. Bahkan bisa juga sebagai kritik terhadap rezim kekuasaan.

"Sebab itu, keberadaan sastra, kita harapkan tetap hadir di masyarakat. Artinya, memberikan amunisi pada manusia tentang sastra. Kita bersuara lewat Sastra," kata dia.

Pekan Olahraga Tradisional 2019 di Bantul Berlangsung Meriah

Kehadiran sastra, sebagai cara manusia berekspresi dan bersuara, belakangan ini dikatakan didik mulai redup.

Sebabnya, karena tidak memiliki kebijakan anggaran yang luas.

Selama ini, dana keistimewaan, menurut dia, hanya mengakomodir sastra berbau Jawa.

Tetapi sastra berbahasa Indonesia, sastra pertunjukan, selama ini mandiri, belum tersentuh penganggaran.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved