Pekan Olahraga Tradisional 2019 di Bantul Berlangsung Meriah

Lima kategori yang dilombakan adalah hadang atau gobag sodor, dagongan, egrang, sumpitan, serta terompah panjang atau balap bakiak

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Azka Ramadhan
Para peserta cabor egrang saling memacu kecepatannya di ajang Pekan Olahraga Tradisional 2019, di komplek Stadon Sultan Agung, Bantul, Sabtu (26/10/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pekan Olahraga Tradisional 2019 resmi dilangsungkan di komplek Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (26/10/201919).

Setiap daerah tampak begitu berambisi meraih hasil terbaik.

Meski demikian, suasana hangat tetap tersaji di tengah kompetisi.

Terdapat lima cabang olahraga yang dipertandingkan pada event tahun ini.

Sebut saja hadang atau gobag sodor, dagongan, egrang, sumpitan, serta terompah panjang atau balap bakiak.

Sedikitnya 24 provinsi ambil bagian dalam ajang dua tahunan itu.

Menariknya, meski para peserta saling berjibaku guna mengharumkan daerah masing-masing, senda gurau tetap kental di setiap pertandingan.

Alhasil, atmosfer kompetisi yang biasanya menegangkan, kali ini terlihat begitu cair dan penuh dengan keakraban.

Seperti diungkapkan Martinus Kaize (19), seorang peserta dari kontingen Papua, yang memanfaatkan ajang ini untuk menjalin persahabatan dengan teman-teman daerah lain.

Ia menilai, kesempatan semacam ini sangat langka dan harus dimaksimalkan.

"Menyenangkan ya, saya mendapat teman baru lewat acara ini. Kita banyak kenalan dengan teman-teman dari daerah lain, dari Riau, Yogyakarta, Jawa Barat. Luar biasa, seru," tandasnya.

Walau begitu, pemuda yang berksempatan ikut serta pada dua cabor sekaligus, yakni egrang dan terompah panjang tersebut, tetap berambisi merengkuh predikat terbaik.

Terlebih, kontingennya telah berisap dengan sebaik mungkin, sebelum bertolak ke Bantul.

"Targetnya harus memberi yang terbaik untuk Papua. Kita senang bisa main di sini, apalagi banyak pelajaran yang dapat dipetik dari olahraga tradisional, seperti pentingnya kerja sama ya," ucapnya.

Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora RI, Raden Isnanta, mengatakan olahraga tradisional dinilai perlu dilombakan, untuk memancing gairah para kontingen.

Pasalnya, keberadaan kompetisi resmi semacam ini, membuat para peserta makin termotivasi.

"Ya, jadi kita pancing dengan pertandingan. Kalau mereka sudah termotivasi, maka akan berlatih secara rutin dan sungguh-sungguh. Dengan begitu, mereka turut melestarikan olahraga tradisional yang mulai dilupakan ini," katanya. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved