Advertorial
Adaptasi Pasar Beringharjo di Era Digital
Pasar yang menjadi rumah bagi sekitar 5.600 pedagang ini tetap menjadi magnet dengan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pasar Beringharjo yang merupakan pasar tradisional terbesar di Kota Yogyakarta, tidak hanya memenuhi kebutuhan warganya namun juga wisatawan.
Pasar yang menjadi rumah bagi sekitar 5.600 pedagang ini tetap menjadi magnet dengan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kabid Pengembangan Penataan Pasar (P3P) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Yogyakarta, Gunawan Nugroho Utomo menjelaskan bahwa salah satu terobosan yang dilakukan di Pasar Beringharjo ialah revolusi sistem pembayaran yang dimulai dari pedagang.
• Dinas Perhubungan Gelar Sosialisasi Jalan Searah di Ruas Jalan Pabringan Selatan Pasar Beringharjo
"Pembayaran retribusi awalnya karcis lalu ke kartu penetapan pembayaran retribusi, selanjutnya buku ketetapan pembayaran retribusi, dan kami sekarang menggunakan QR Code sanyampang dengan program Gerakan Nasional Non Tunai. QR Code diterapkan di 26 pasar. Tapi ada juga yang sudah e-retribusi di Pasar Beringharjo Barat, Tengah, dan Timur dan Pasar Demangan," ucapnya, Sabtu (5/10/2019).
Ia menjelaskan bahwa kesulitan yang dialami bukan tentang secanggih apa sistem yang dibuat melainkan mengubah mindset pedagang, yang juga didominasi pedagang lanjut usia, agar ramah terhadap teknologi.
"Setelah e-retribusi, ke depan kita akan menggunakan fintech (financial technology) untuk pembayaran retribusi karena sekarang sudah sangat umum ya. Apalagi banyak promo cashback, saya rasa ini akan diminati pedagang," ujarnya.
Gunawan berharap, nantinya seluruh pedagang Pasar Beringharjo sudah bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi sehingga semua pembeli bisa melakukan transaksi jual beli dengan sistem non tunai.
• Makna Kunjungan Ibu Negara di Pasar Beringharjo
"Pengunjung Pasar Beringharjo 80 persen adalah wisatawan. Mereka kebanyakan datang malam hari. Bagi wisatawan yang biasa fintech, saldo e-wallet lebih banyak dari pada di dompet karena mereka pakai tol, parkir, semua dari sana. Kami edukasi penjual dan kami giring untuk mau menjadi merchant sistem pembayaran tersebut," ujarnya.
Namun, saat ini di Pasar Beringharjo sendiri dikatakan Gunawan juga sudah melayani pembayaran non tunai menggunakan kartu debit.
Hal ini dilakukan terutama di bagian fashion dan kerajinan yang memang banyak memiliki pembeli wisatawan luar kota.
"Kami mencoba pelayanan yang terbaik, baik untuk pedagang maupun pengunjung. Mulai dari keamanaan dengan penambahan CCTV, kenyamanan dengan penataan dan edukasi pedagang di Pasar Beringharjo yang kini ketika masuk sudah tidak perlu berdesak-desakan lagi," bebernya.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tambah-jam-operasional-pemkot-tidak-ingin-wisatawan-kecele-saat-ke-beringharjo_20180411_222914.jpg)