Apoteker Perlu Kaji Kemampuan Ekonomi Pasien Saat Tawarkan Obat

Ingenida tak memungkiri bahwa praktik penjualan obat dengan mementingkan omzet ini masih banyak dilakukan.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho
Pembukaan forum Kegiatan Ilmiah Tahunan (KIT) Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (Hisfarma) yang digelar PD IAI DIY di Sahid Jaya Hotel Yogyakarta, Jumat (4/10/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tak hanya asal menawarkan obat, ke depan apoteker dituntut untuk perlu mempertimbangkan, mengkaji bahkan menganalisis kemampuan pasien saat menawarkan obatnya.

Demikian disampaikan Ketua Bidang Riset dan Teknologi Pengurus Daerah (PD) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DIY, Ingenida Hadning, M.Sc., Apt.

Ia menjelaskan, tindakan semacam ini diperlukan agar apoteker tak hanya menuruti permintaan atau titipan industri farmasi, saat memberikan atau memilihkan obat kepada pasien yang membutuhkan.

"Namun masyarakat yang diberikan obat juga harus dilihat, apakah mereka mampu untuk masalah biayanya. Jadi obat yang ditawarkan itu tidak hanya efektif, tapi juga ekonomis," katanya kepada media di sela forum Kegiatan Ilmiah Tahunan (KIT) Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (Hisfarma) di Sahid Jaya Hotel Yogyakarta, Jumat (4/10/2019).

Dijelaskan lebih lanjut, Ingenida tak memungkiri bahwa praktik penjualan obat dengan mementingkan omzet ini masih banyak dilakukan.

Hal ini lantaran profesi apoteker bagaikan dua sisi mata uang dimana ada tuntutan bisnis dan tuntutan profesi.

Dalam tuntutan bisnis apoteker dituntut mendapatkan omzet tinggi, sedangkan untuk sisi profesi apoteker dituntut untuk mengedepankan sisi kemanusiaan.

Oleh karenanya pihaknya juga mendorong apoteker untuk memiliki kajian dan analisis ekonomis terkait obat dan pasien.

Selain itu masyarakat juga didorong agar lebih paham dan mengerti terkait obat yang cocok untuk masing-masing pasien.

"Tapi kita dan masyarakat harus melihat lagi, belum tentu lho obat yang mahal itu efektif makanya kita beri edukasi," tambah Ingenida yang juga Ketua Panitia sekaligus pakar dan dosen Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini.

Selain perlu kajian dan analisis ekonomi saat menawarkan obat, apoteker juga dituntut untuk melakukan evidence based practices atau melakukan praktek berdasarkan bukti.

Bukan hanya berdasarkan pada pengalaman saja.

"Apoteker jangan berdasarkan kata terdahulu seperti apa tapi juga harus melihat soal analisis buktinya dari jurnal-jurnal ilmiah maupun kajian," bebernya.

Ketua Pengurus Daerah (PD) IAI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Nanang Munif Yasin, menambahkan penggunaan obat sejatinya memiliki aturan-aturan yang harus diketahui oleh masyarakat.

Obat tidak akan efektif atau manjur jika pasien salah meminum dan bahkan memperlakukan obatnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved