Bisnis

Industri Kreatif di Yogyakarta Harus Melek Teknologi

Mendorong inovasi dan kreativitas para pelaku UMKM khususnya di Yogyakarta, JNE mengenalkan sebuah sistem yang disebut Friendly Logistics.

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Sesi jumpa media JNE Kopiwriting di Silol Kopi and Eatery, Kotabaru, Yogyakarta, Rabu (2/10/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjawab tantangan UMKM di era digital saat ini, pelaku usaha dituntut tak hanya lihai membuat produk yang bagus namun juga harus memiliki produk yang berbeda bahkan pemasaran yang lebih menarik.

Mendorong inovasi dan kreativitas para pelaku UMKM khususnya di Yogyakarta, JNE mengenalkan sebuah sistem yang disebut Friendly Logistics.

Adi Subagyo Branch Manager JNE Yogyakarta menjelaskan, layanan E-fulfillment ini adalah layanan yang memberi kemudahan bagi pelaku industri kreatif, termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam menjalankan bisnisnya.

Hadirkan Solusi bagi Pelaku Industri Kreatif, JNE Kembali Kenalkan Layanan Friendly Logistic

Sistem ini menawarkan pengelolaan warehousing dengan konsep Friendly Logistic yang dilakukan secara profesional dan terintegrasi langsung dengan layanan pengiriman.

Bahkan, kata Adi, layanan ini pun mampu menyediakan update data jumlah stok barang, dan status pengiriman tiap paket secara berkala.

Berbagai fasilitas dalam Friendly Logistics seperti digital marketing, warehousing, order fulfilment, technology development, shipping management dan delivery akan menjadi solusi.

Hal itu karena pelaku usaha kerap direpotkan dengan proses logistik yang dilakukan sendiri, seperti proses warehousing, pengaturan stock barang mau pun packaging, dan yang lainnya.

JNE Luncurkan Friendly Logistics Dukung Kemajuan UKM Yogyakarta

"Perlu effort besar apabila hal terkait logistik dikerjakan secara mandiri oleh pelaku usaha. Karena itulah Friendly Logistik dihadirkan untuk membantu UKM agar dapat fokus dan berkonsentrasi pada sektor produksi, pengembangan atau inovasi produk, serta sales," kata Adi dalam sesi jumpa media di Silol Kopi and Eatery, Kotabaru, Yogyakarta, Rabu (2/10/2019).

Lucy Irawati selaku Kepala Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta menambahkan berdasarkan data terbaru pihaknya, pertumbuhan UMKM diwilayahnya terbilang menggembirakan.

Berdasarkan hasil pendataan instansinya, pada 2017 tercatat jumlah UMKM di Kota Yogyakarta mencapai 23.000.

"Angka tersebut masih kita perbaharui terus mengingat pergerakan usaha lokal sangat dinamis. Selain itu kami juga memberikan pembinaan dan pendampingan UMKM seperti pelatihan produksi, manajemen kewirausahaan, hingga legalitas usaha," ungkap Lucy dikesempatan yang sama.

Lucy menjabarkan salah satu problem yang sering menghinggapi para pelaku usaha ini ialah masalah inovasi dan kreativitas produk. Tak sedikit pula yang merasa cepat puas bahkan enggan memberikan sentuhan kreativitas.

"Di Yogyakarta itu memang dikenal kota kreatif. Tapi (pelaku UMKM) kurang kesadaran untuk terus berinovasi dan berkembang. Perlu terus kita dorong. Caranya dengan pendampingan agar usaha mereka bisa tetap bertahan," tambahnya.

Dari 23ribu data UMKM yang ia sampaikan, tercatat 81 persen diantaranya adalah usaha mikro, 15 persen usaha skala kecil dan hanya 3,25 persen kelas menengah.

Jenis usahanya tertinggi mulai dari sektor kuliner, fesyen dan kriya.

JNE Dorong Pengrajin Batik di Pekalongan Go Online

"Kita juga dorong pelaku usaha ini untuk punya legalitas termasuk hak kekayaan intelektualitas, per Juli kemarin ada 3.246 usaha mikro yang sudah mengantongi legalitas," tambahnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved