Pakai Vape untuk Berhenti Merokok? Ternyata Keliru

Disebutkan bahwa vape mengandung formaldehida, benzena, dan akrolein. Zat kimia tersebut bersifat karsinogenik yang bisa memicu kanker

Editor: Mona Kriesdinar
IST/MedicalNewsToday
Ilustrasi rokok elektrik atau vape. 

Pakai Vape untuk Berhenti Merokok? Ternyata Keliru

TRIBUNJOGJA.COM - Anda keliru jika vape disebut tidak menimbulkan kecanduan. Vape atau rokok elektrik sebenarnya memiliki kandungan nikotin. Sehingga, akibatnya tetap bisa serupa dengan rokok, yang menimbulkan efek adiksi atau ketagihan.

“Salah jika orang beranggaan vape menjadi jembatan untuk berhenti merokok. Nikotin dalam vape membuat ketagihan sehingga susah untuk berhenti.”

Hal itu disampaikan perwakilan Departemen Penyakit Dalam Divisi Respirologi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr Iceu Dimas Kultsum SpPD kepada Kompas.com.

Iceu mengatakan, dalam sejumlah penelitian disebutkan, vape mengandung formaldehida, benzena, dan akrolein.

Zat kimia tersebut bersifat karsinogenik yang bisa memicu kanker.

Cara kerjanya, zat itu akan merusak inti sel hingga terjadi perubahan struktur.
Perubahan ini, kata Iceu, selanjutnya menjadi asal muasal menjadi kanker.

Nah, untuk mencegahnya, sebaiknya tidak merokok atau pun menggunakan vape. Namun, berhenti menggunakan vape juga sesuatu yang sulit bagi orang yang ketagihan.

“Untuk berhenti, harus ada keinginan kuat dari pasiennya. Seberapa dahsyatnya informasi yang disampaikan, jika pasiennya tidak ingin berhenti, akan sulit,” tutur dia.

Namun bagi pasien yang ingin berhenti, biasanya tim kesehatan akan mengajak orang terdekat pasien untuk melakukan pendampingan.

“Pendampingan dilakukan selama pasien berupaya berhenti merokok konvensional atau pun vape,” ungkap dia.

Iceu mengatakan, pendampingan perlu dilakukan oleh orang terdekat karena merekalah yang tau kondisi pasien dan kebiasaan pasien.

Misal ada orang yang menggunakan vape atau merokok ketika stres.

Namun ada pula orang saat tidak ada pekerjaan atau tengah bengong.

Dengan mengetahui pola kebiasaan tersebut, maka pendamping bisa melakukan pencegahan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved