Pakai Vape untuk Berhenti Merokok? Ternyata Keliru

Disebutkan bahwa vape mengandung formaldehida, benzena, dan akrolein. Zat kimia tersebut bersifat karsinogenik yang bisa memicu kanker

Pakai Vape untuk Berhenti Merokok? Ternyata Keliru
IST/MedicalNewsToday
Ilustrasi rokok elektrik atau vape. 

“Pendampingan dilakukan selama pasien berupaya berhenti merokok konvensional atau pun vape,” ungkap dia.

Iceu mengatakan, pendampingan perlu dilakukan oleh orang terdekat karena merekalah yang tau kondisi pasien dan kebiasaan pasien.

Misal ada orang yang menggunakan vape atau merokok ketika stres.

Namun ada pula orang saat tidak ada pekerjaan atau tengah bengong.

Dengan mengetahui pola kebiasaan tersebut, maka pendamping bisa melakukan pencegahan.

“Mendekati kondisi merokok, dicegah dengan melakukan kegiatan lain. Dicari kesukaan lain. Misal, dialihkan dengan sesuatu yang dia suka. Misal olahraga atau makanan,” ucap dia.

Dokter biasanya akan mengecek perkembangan pasien saat datang kontrol. Bahkan, dia memberikan nomor kontak kepada pasien untuk mengingatkan pada janji pasien agar tidak merokok.

Sebab pada intinya, ketika seseorang sudah bertekad berhenti merokok, orang-orang di sekelilingnya harus mendukung.

"Salah satunya dengan kerap mengingatkan pasien," kata Iceu. (*)

==

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Salah, Vape Bukan Jembatan untuk Berhenti Merokok..."

Editor: mon
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved