Sleman
BPBD Sleman Distribusikan 77 Tangki Air Bersih
Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya untuk menangani kekurangan air bersih dampak dari musim kemarau.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya untuk menangani kekurangan air bersih dampak dari musim kemarau.
Hingga 20 September 2019 kemarin, telah didistribusikan 77 tangki air bersih ke tiga desa dari dua kecamatan di Kabupaten Sleman.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan mengatakan sebaran bantuan air bersih yakni di Desa Sambirejo sebanyak 36 tangki, Desa Gayamharjo sebanyak 36 tangki, kedua desa ini berada di Kecamatan Prambanan.
Selain itu bantuan air bersih juga dilakukan ke SMP N 2 Moyudan sebanyak lima tangki.
• Keceriaan Pedagang dan Juragan Sayur Berjoget Ria di Grebek Pasar Isuzu Traga 2019 Magelang
Makwan mengatakan, di SMP N 2 Moyudan juga mengalami kekeringan dikarenakan sumur yang mengering.
"Bantuan distribusi air bersih ini untuk kebutuhan kamar mandi dan wudhu," jelasnya, Sabtu (21/9/2019).
Adapun dari 77 tangki tersebut, 36 diantaranya berasal dari BPBD Sleman, dan sisanya dari pihak ketiga yang memberikan bantuan, seperti BUKP Sleman, PLN, ojek online, dan alumni SMP N 3 Prambanan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto, mengatakan bantuan air bersih telah dilakukan sejak 10 September lalu.
Ia juga menyebutkan bahwa BPBD Sleman telah menyiapkan 300 tangki untuk mengatasi kesulitan air.
Setiap tangki airnya masing-masing berisi 5.000 liter.
• Jumlah Dropping Air Sudah Capai 23,9 juta Liter untuk Kekeringan di Yogyakarta
Dikatakan pula bahwa jumlah tersebut dipastikan cukup hingga musim hujan tiba.
Sebelumnya, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, mengatakan bahwa Pemerintah Kebupaten Sleman akan memberikan bantuan berupa pompa air serta perangkat pendukung lainnya.
Sehingga diharapkan tidak ada lagi droping air ke wilayah tersebut untuk tahun-tahun berikutnya.
"Tapi ini juga tidak berarti jika tidak bijaksana dalam menggunakan air. Silahkan gunakan air untuk hal-hal yang perlu saja," ucapnya.
Lebih lanjut ia menimbau masyarakat untuk membuat tendon air guna menampung air hujan nanti.
Air hujan yang ditampung nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan saat datang musim kemarau seperti saat ini.
• Cakupan Wilayah Kekeringan Meningkat, BPBD Bantul Dropping 900 Tangki Air Bersih
Terkait prakiraan datangnya musim hujan, Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Staklim Yogyakarta, Etik Setyaningrum mengungkapkan awal musim hujan umumnya diprakirakan pada November dasarian I - III, kecuali wilayah Sleman bagian barat dan Kulon Progo bagian utara yakin pada Oktober dasarian III atau sepuluh hari terakhir Oktober.
"Bila dibandingkan dengan kondisi normalnya awal musim hujan 2019/2020 diprakirakan lebih lambat 1-2 dasarian," jelasnya.
Ia mengatakan, awal musim hujan diprakirakan lebih lambat dikarenakan faktor kondisi dinamis seperti, IOD ( Indian Ocean Dipole) sampai dengan November.
Ia memprediksikan IOD positif cenderung ke netral yang berdampak pengurangan curah hujan.
"Untuk puncak musim hujan diprakirakan akan terjadi pada Januari-Februari 2020," terangnya. (TRIBUNJOGJA.COM)