Bantul

Cakupan Wilayah Kekeringan Meningkat, BPBD Bantul Dropping 900 Tangki Air Bersih

Musim kemarau yang cukup panjang berdampak pada meluasnya wilayah kekeringan di Kabupaten Bantul.

Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Amalia Nurul
Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Dwi Daryanto 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Musim kemarau yang cukup panjang berdampak pada meluasnya wilayah kekeringan di Kabupaten Bantul.

Permintaan air bersih di masyarakat pun juga menjadi meningkat.

BPBD Bantul sejauh ini telah melakukan dropping air bersih sebanyak 900 tangki di daerah-daerah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Bantul.

"Permintaan masyarakat semakin meningkat untuk air bersih karena ini memasuki puncak musim kemarau. Sehingga kami bersama organisasi masyarakat, relawan, lembaga, sudah dropping 900 lebih tangki air ke seluruh wilayah Kabupaten Bantul," kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Dwi Daryanto pada Tribunjogja.com.

Uniknya Sego Penggel Khas Kebumen di Watoe Gajah

Ia mengatakan, jumlah tersebut belum ditambah dengan bantuan dari lembaga lain seperti Tagana dan PMI.

Peran berbagai pihak dibutuhkan untuk mengatasi masalah kekeringan ini.

"Itu baru BPBD, belum dari Tagana, PMI, sudah cukup banyak. Kecukupan air bersih kalau kita atasi bersama-sama tidak ada permasalahan," tuturnya.

Sebelumnya Dwi juga mengatakan daerah yang terdampak ada di 15 desa dan 7 kecamatan yakni Kecamatan Piyungan, Dlingo, Imogiri,  Pleret, Pundong, Kretek,  Pandak, dan Kasihan.

"Tapi satu desa bisa bertambah dari yang tadinya satu atau dua dusun bertambah jadi tiga sampai empat dusun dalam satu desa," ungkapnya.

Selain permintaan dropping, kasus kebakaran juga semakin meningkat. Kasusnya cepat bertambah dari minggu ke minggu.

BPBD DIY Sebut Pembuatan Sumur Bor Jadi Solusi Jangka Panjang Kekurangan Air di Yogyakarta

Pekan lalu BPBD mencatat ada 90 kasus kebakaran baik lahan atau permukiman. Pekan ini jumlahnya pun sudah bertambah.

"Sudah ada 95 kali kejadian, 50 persen kebakaran lahan dan hutan. Sisanya kebakaran rumah tinggal dan tempat usaha. Kebakaran lahan karena memang puncak kemarau, diakibatkan kelalaian manusia," ungkapnya, Selasa (17/9/2019).

Membuang puntung rokok sembarangan dan pembakaran sampah yang tidak dilokalisir menjadi penyebab kebakaran lahan terjadi.

Sementara kebakaran rumah tinggal juga karena kelalaian manusia, seperti menyalakan kompor lalu ditinggal pergi sampai hubungan pendek arus listrik.

Dwi berharap kejadian kebakaran tahun ini tidak sebanyak tahun lalu.

"Mudah-mudahan tidak seperti 2018 ada 205 lebih kejadian," katanya. (*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved