Yogyakarta

Jumlah Dropping Air Sudah Capai 23,9 juta Liter untuk Kekeringan di Yogyakarta

Selain meningkat jumlah dropping air, jumlah kecamatan yang terdampak pun telah mencapai 39 dari sebelumnya 30 kecamatan.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Warga Dusun Kikis, Sambirejo, Prambanan saat menampung air bersih usai mendapatkan air dari BPBD Sleman 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan, jumlah dropping air di empat kabupaten DIY yang terdampak bencana kekeringan mencapai sekitar 23.958.000 liter.

Jumlah tersebut meningkat dari pekan lalu yang mencapai 19.170.000 liter.

Selain meningkat jumlah dropping air, jumlah kecamatan yang terdampak pun telah mencapai 39 dari sebelumnya 30 kecamatan.

Untuk jumlah desa meningkat dari 91 desa menjadi 107 desa.

Uniknya Sego Penggel Khas Kebumen di Watoe Gajah

Menurutnya, kebutuhan air bersih di masing-masing kabupaten/kota masih dapat dicukupi oleh pemerintah dan dibantu oleh pihak swasta.

“Sementara,  penyaluran air bersih oleh BPBD Kabupaten Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo untuk bulan September dan Oktober masih aman, sedangkan untuk Dinas Sosial kebutuhan air untuk bulan September sampai akhir Oktober belum dianggarkan,” ujarnya pada Tribunjogja.com.

Dia menambahkan, kebutuhan air bersih di masing-masing kabupaten/kota masih dapat dicukupi oleh pemerintah dan dibantu oleh pihak swasta.

Sementara, penyaluran air bersih oleh BPBD Kabupaten Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo untuk bulan September dan Oktober masih aman, sedangkan untuk Dinas Sosial kebutuhan air untuk bulan September sampai akhir Oktober belum dianggarkan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kabupaten Kulon Progo telah menetapkan status darurat kekeringan per tanggal 9 September lalu.  

BPBD DIY Sebut Pembuatan Sumur Bor Jadi Solusi Jangka Panjang Kekurangan Air di Yogyakarta

BPBD Kulon Progo juga telah mengajukan dana tak terduga sebesar Rp 116 juta.

Status darurat kekeringan ini menyasar pada 4.100 kepala keluarga yang berada di tujuh kecamatan dan 30 desa.

Biwara menjelaskan, dana tak terduga sebesar Rp 116 juta yang diajukan oleh BPBD Kulon Progo ini setara dengan 450 tanki.

Sambil menunggu dana tersebut cair, saat ini droping air terus dilakukan.

Dropping air ini dilakukan dengan dukungan masyarakat atau CSR.

Menurutnya dari rapat koordinasi (Rakor)  dengan kabupaten dan kota terkait prediksi BMKG bahwa hujan dimulai dasarian pertama November.  

Gunakan APBD, BPBD Sleman Siap Bagikan 300 Tangki Air

Artinya masih sekitar dua bulan lagi hari tanpa hujan, kebutuhan droping air masih aman yang dipenuhi dari APBD dan pihak-pihak lain yang sudah berkomitmen membantu droping air.

Selain Kulon Progo, dua Kabupaten lain yakni Bantul dan Gunungkidul telah menetapkan siaga darurat kekeringan.  

Untuk Bantul, Bupati telah mengeluarkan surat keputusan status siaga darurat pada tanggal 12 Juli 2019, dengan nomor 331/2019 yang berisikan bahwa status siaga darurat terhitung mulai tanggal 15 Juli 2019 sampai dengan 15 Desember 2019.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul juga telah mengeluarkan surat keputusan status  siaga darurat pada tanggal 9 Mei 2019 dengan nomor 153/KPTS/2019 yang berisikan bahwa status siaga darurat kekeringan dimulai sejak tanggal 02 Mei 2019 sampai dengan 31 Oktober 2019. (*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved