Sleman
Festival Layang-layang Ngaran 2019 Ajak Milenial ke Sawah
Setidaknya ada 50 peserta dari berbagai daerah yang memeriahkan Festival Layang-layang Ngaran 2019.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Puluhan layang-layang berbagai bentuk menghiasi langit Dusun Ngaran, Margokaton, Seyegan, Sleman, Minggu sore (15/9/2019).
Dari pantauan Tribunjogja.com, setidaknya ada 50 peserta dari berbagai daerah yang memeriahkan Festival Layang-layang Ngaran 2019.
Layangan yang diterbangkan ada yang berbentuk naga, pesawat, burung, kupu-kupu hingga tokoh wayang dan super hero.
Ketua Panitia Festival Layang-layang Ngaran 2019, Aris Riyanto mengatakan festival ini baru pertama kali diadakan.
• Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet
Ia menjelaskan beberapa aspek yang diangkat dalam festival ini.
Yakni untuk spiritulistas dan agrikultur.
Di bidang agrikultur, ia mengatakan bahwa layangan dulu digunakan untuk mengusir hewan perusak ladang atau kebun, sekaligus pengusir bosan selagi berladang.
"Namun, kebiasaan menerbangkan layang-layang ini pun mulai ditinggalkan, terutama di persawahan," ucapnya pada Tribunjogja.com.
Ia menekankan bahwa festival ini berbeda dengan yang lain.
• Festival Garis Imaginer Dipastikan Masuk ke Calendar of Event Sleman
Jika festival sejenis digunakan untuk menggaet wisatawan, maka festival di Ngaran ini untuk mengajak generasi milenial mengenal sawah lebih jauh.
"Dulu itu banyak orang yang bermain layangan di sawah. Tapi sekarang semakin sedikit karena banyak alih fungsi lahan, makanya ini sebagai bentuk menumbuhkan kecintaan kepada sawah agar tetap lestari," bebernya.
Ratusan masyarakat hadir dalam festival ini, dari yang muda hingga tua.
Termasuk Djaduk Feriyanto yang sengaja hadir untuk menonton.
Ia sependapat bahwa festival ini berbeda dengan yang biasa diselenggarakan di pantai.
• Pemkab Sleman Kukuhkan Sentra Industri Jadah Tempe
"Ini kan tujuannya bukan untuk pariwisata. Beda kalau di pantai. Kalau ini nantinya jadi agenda rutin tahunan dan pariwisata maka harus ditinjau lagi," katanya.
Jika tujuannya untuk melestarikan sawah, Djaduk mengatakan, sebaiknya layangan yang ditampilkan juga yang ada nuansa sawah.
Seperti layangan bentuk petani, dewi sri, tikus dan lain sebagainya.
"Agar selaras dengan tema. Tapi ini juga sudah sangat bagus," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/festival-layang-layang-ngaran-2019-ajak-milenial-ke-sawah.jpg)