Bantul

BPBD Bantul Catat 90 Kejadian Kebakaran hingga September 2019

Kebakaran lahan banyak terjadi di wilayah Piyungan, Dlingo,dan Imogiri. Sementara kebakaran pemukiman banyak terjadi di Kasihan, Sewon dan Bantul.

Tayang:
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Amalia Nurul
Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Dwi Daryanto 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat di 2019 ini ada 90 kejadian kebakaran hingga pekan kedua September.

Dari total jumlah tersebut, separuhnya merupakan kebakaran lahan dan separuh lainnya kebakaran di pemukiman.

Kepala BPBD Bantul, Dwi Daryanto mengatakan, kebakaran lahan banyak terjadi di wilayah Piyungan, Dlingo, dan Imogiri.

Sementara kebakaran pemukiman banyak terjadi di kecamatan Kasihan, Sewon, dan Bantul.

Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet

"Yang paling banyak memang di bulan Agustus sampai September. Di mana bulan-bulan itu memasuki musim kemarau yang cukup kering. Kebakaran lahan dari 90 kejadian hampir separuhnya. Sisanya yang rumah tinggal, biasanya karena kelalaian juga," katanya pada Tribunjogja.com.

Penyebab kebakaran lahan kata Dwi karena satu di antaranya pemicunya karena membakar sampah.

"Satu di antaranya karena masyarakat masih suka membakar sampah yang pada saat membakar tidak memahami seharusnya seperti apa. Maka ada yang bakar terus ditinggal," ujarnya.

"Ada yang bakar tapi tidak dilokalisir, misalnya di kebon itu harusnya dipisahkan antara sampah kering dan lainnya baru dibakar. Sehingga tidak merembet ke mana-mana. Kejadiannya rata-rata seperti itu," sambungnya.

BREAKING NEWS : Kebakaran, Jalur Pendakian Gunung Merbabu Ditutup Sementara

Sementara kebakaran yang terjadi di permukiman juga rata-rata disebabkan karena faktor kelalaian.

Seperti ketika memasak tapi api kompor lupa dimatikan dan ditinggal pergi.

"Kebakaran yang rumah tinggal, biasanya karena kelalaian juga. Karena konsleting, material di dalam rumahnya seharusnya sudah diganti tapi belum diganti. Ada juga yang masak ditinggal pergi lupa. Rata-rata seperti itu," tuturnya.

Dwi menganjurkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan alat listrik di rumah.

Memeriksa instalasi listrik seperti stop kontak juga perlu dilakukan.

Agar ketika terjadi sedikit kerusakan dapat segera diperbaiki dan tidak menimbulkan konslet.

Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan di Lereng Merapi, BTNGM Giatkan Patroli

"Kita, masyarakat harus mentaati anjuran dari PLN terutama untuk instalasi listrik di dalam rumahnya. Karena instalasi listrik itu tidak dipakai seumur hidup. Pasti ada waktu kadaluwarsanya," ujarnya.

Lanjutnya, terlalu banyak sambungan-sambungan kabel yang tidak perlu juga dapat memicu konslet.

"Dobel-dobel, ada kulkas, tv, setrika jadi satu kan bebannya berat. Kabel itu kan tidak mampu untuk menahan," katanya.

Sebagai antisipasi, melapor ke PLN dapat dilakukan jika terdeteksi ada instalasi listrik yang perlu diperbaiki atau diganti.

"Lapor ke PLN, antisipasi lebih bagus," ujarnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved