Kisah Sepeda Merah Antar Lailatul Qomariah Raih Gelar Doktor di Usia Muda
Kisah Sepeda Merah Antar Lailatul Qomariah Raih Gelar Doktor di Usia Muda di ITS Surabaya
Sepeda merah pemberian orangtuanya yang dibeli seharga Rp 1 juta mengantar Lailatul Qomariah meraih gelar doktor di ITS.
TRIBUNJOGJA.COM - Lailatul Qomariyah (27), anak seorang petani tembakau asal Pamekasan sukses meraih gelar doktor di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.
Kesuksesannya untuk meraih gelar doktor di usia yang terbilang cukup muda tersebut diraih dengan jalan yang berliku.
Kondisi perekonomian kedua orangtuanya yang kekurangan membuat Lailatul harus berjuang keras hingga akhirnya bisa membanggakan kedua orangtuanya.
Kesuksesan meraih gelar doktor inipun tak lepas dari kisah sepeda ontel warna merah yang menemaninya saat mengenyam pendidikan tinggi.
Sepeda ontel warna merah itu adalah pemberian ayahnya, Saningrat (43).
Sepeda itulah yang dia gunakan Lailatul sejak SMA hingga kuliah.
• Kisah Mbah Waris, Mantan Pengawal Bung Karno yang Bertahan Hidup dengan Berjualan Koran di Surabaya
Saningrat, saat ditemui di rumahnya di asal Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, menceritakan, dirinya harus menunggu musim panen tembakau untuk bisa membeli sepeda itu.
"Untuk membeli sepeda ontel anak saya, saya harus menunggu hasil panen tembakau dan menguras tabungan selama setahun. Waktu itu harga sepedanya Rp 1 juta," ujarnya.
Selain itu, kisah unik juga sempat muncul sewaktu Lailatul masih sekolah di SMA.
Saat itu, putrinya sempat dikira anak orang kaya karena setiap pagi berangkat ke sekolah diantar menggunakan becak.
Di sekolah itu kebanyakan siswa yang diantar dengan becak umumnya dari golongan berada.
Namun, rekan-rekan Lailatul tidak mengetahui jika penarik becaknya adalah ayah Lailatul sendiri.
Setelah kejadian itu, mungkin karena tidak ingin merepotkan ayahnya, Lailatul pun meminta dibelikan sepeda ontel untuk berangkat ke sekolah.
• Kisah Aria Permana Seusai Jalani Operasi Pengangkatan Gelambir, Tangan jadi Ringan
Selain tentang sepeda, Saningrat juga mengungkapkan dirinya sempat diremehkan oleh para tetangga karena dianggap tak mampu membiayai kuliah Lailatul.
Penghasilan dirinya sebagai penarik becak dan istrinya, Rusmiati (40) yang hanya buruh tani, dianggap tidak akan mencukupi kebutuhan kuliah Lailatul.
Namun, bagi Saningrat dan putrinya, cibiran itu justru dijadikan motivasi. Laila juga meyakinkan kedua orangtuanya untuk tidak mempedulikan cibiran tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kisah-sepeda-merah-antar-lailatul-qomariah-raih-gelar-doktor-di-usia-muda.jpg)