Media Sosial Disebut-sebut Jadi Penyumbang Utama Gerakan Radikalisme dan Terorisme

82% unggahan Twitter merupakan pesan sentimen positif dengan paham khilafah, radikalisme, terorisme.

Media Sosial Disebut-sebut Jadi Penyumbang Utama Gerakan Radikalisme dan Terorisme
dok.istimewa
Seminar Nasional dan Call For Paper bertajuk Literasi Digital dalam Membangun Perdamaian dan Peradaban yang diadakan di Gedung Prof. RHA. Soenarjo, SH, UIN Sunan Kalijaga pada Kamis - Jumat (5-6/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hasil penelitain yang dilakukan Kalijaga Institute for Justice (KIJ) bekerjasama dengan Australian-Indonesia Partnership for Justice mengungkapkan, media sosial menjadi penyumbang utama gerakan radikalisme-terorisme.

Salah satu data  penelitiannya menunjukkan 82% unggahan Twitter merupakan pesan sentimen positif dengan paham khilafah, radikalisme, terorisme.

Ketua COMTC (Center of Communication Studies and Training), Bono Setyo, dalam Seminar Nasional dan Call For Paper bertajuk Literasi Digital dalam Membangun Perdamaian dan Peradaban yang diadakan di Gedung Prof. RHA. Soenarjo, SH, UIN Sunan Kalijaga (5-6/19) menyampaikan bahwa usia remaja paling mudah terpengaruh pesan-pesan dari media digital yang menyesatkan oleh-orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

"Dari hasil temuan lain menunjukkan rentang usia pelaku terorisme adalah usia 18-20 tahun. Oleh karenanya, dibutuhkan kecerdasan bermedia agar terhindar dari pengaruh buruk pengiat paham khilafah, terorisme-radikalisme," terangnya.

Bono menjelaskan, agar generasi muda terhindar dari pengaruh paham khilafah, radikalisme, terorisme maka peran guru, orang tua dan masyarakat sangat diperlukan.

Selain itu, pendekatan komunikasi dari hati ke hati, cinta kasih dan persuasif sangat dibutuhkan agar usia remaja anak-anak dapat mengembangkan diri secara sehat.

Terutama di  Indonesia, informasi hoaks, hujatan dan ujaran kebencian dewasa ini semakin marak.  Upaya untuk mencerdaskan masyarakat dalam bermedia perlu terus dilakukan, agar jangan sampai merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Waryono menyampaikan, saat ini arus informasi di media sosial sangat marak sekali, hingga tidak lagi bisa membedakan mana pesan yang benar dan mana yang hoaks dan bahkan sudah seperti sampah informasi.

Untuk itu, upaya untuk mencerdaskan masyarakat dalam bermedia perlu terus dilakukan, agar jangan sampai merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Islam sesungguhnya telah memberikan rambu rambu dalam berkomunikasi yang tertulis dalam al Qur’an. Ini bisa menjadi pegangan bagaimana kita berkomunikasi langsung maupun lewat media. Lebih-lebih media sosial yang bisa dengan cepat dikonsumsi oleh masyarakat dunia," ungkapnya.

Menurutnya jika dalam berkomunikasi tidak memahami rambu-rambu yang ada, pesan melalui medsos yang bersifat hoaks, menebar kebencian, menghasut, menfitnah dan seterusnya akan berakibat sangat fatal terhadap kelangsungan hidup masyarakat.

"Sedikitnya ada tiga hal rambu-rabu disebutkan dalam al Qur’an yakni diam, jika tidak memahami yang sesungguhnya terjadi,  bertanya kepada ahlinya jika tidak paham, serta mengajak untuk tabayyun,  bersabar ketika mengalami tekanan, hujatan, fitnah dan semacamnya," katanya.

Di dalam kegiatan ini, juga sekaligus di-launching buku yang ditulis anggota Japelidi dengan tema  “Launching Buku 3.0 JAPELIDI” . Ada empat judul buku yang dilaunching, yakni sensitif gender dalam bermedia sosial, yuk cegah tindak pidana perdagangan orang,  mencegah dan mengatasi bullying di media sosial, dan panduan menjadi jurnalis warga yang bijak beretika.(*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved