Kisah Pasangan Lansia Tinggal di Gubuk, Makan Nasi Sisa Hingga Puasa Tanpa Makanan

Selain kondisi rumah yang kumuh terbuat dari daun kelapa juga terkadang harus makan dengan nasi sisa yang kemudian dikeringkan

Editor: Mona Kriesdinar
Tribun Jabar
Gubuk tempat tinggal Entat dan Suryana di Kampung Cijulang Ngadeg, Desa Mandalajaya, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya 

Selain pembagian paket sembako dan bantuan, Berkah Bantul juga memiliki program bedah rumah. Program ini selain dijalankan sendiri. Namun kadang juga mengajak dan berkolaborasi bersama komunitas lain.

"Sampai sekarang sudah ada sembilan rumah yang sudah kami bedah," tutur dia.

Menariknya, program bantuan, paket sembako dan bedah rumah bagi warga tidak mampu dijalankan Indra tanpa membuka donasi. Ia hanya mengandalkan relasi dan sengkuyung bareng bersama anggota komunitas.

"Saya komitmen sejak awal, untuk membantu warga tidak mampu tidak akan membuka donasi," ucap Bapak dari Farrel Rafandra Putra itu.

Berawal dari Penjara

Titik balik kehidupan manusia bisa terjadi kapanpun. Latar belakangnya bisa apa saja. Indra sendiri mengaku hidupnya berubah pasca menjalani hukuman dipenjara.

Waktu itu tahun 2017. Bulan Desember, tanggalnya 12. Indra mengaku masih sangat ingat diluar kepala. Hari itu ia bersama tiga temannya divonis bersalah dimata hukum.

"Saya dipenjara selama sebelas hari di Polres Bantul. Itu menjadi titik perubahan hidup saya," kata dia, mengawali cerita.

Sebelas hari itu menjadi titik balik dari kehidupan. Warga Pelemadu, Sriharjo, RT 04 Imogiri Bantul itu mengaku banyak merenung selama di penjara. Ia muhasabah, membenahi diri.

Bagi dia, tak ada kebanggaan sedikitpun ketika orang dinyatakan bersalah dan masuk hotel prodeo. Uang dan fasilitas apapun yang dipunya tidak berguna.

"Di tahanan itu rasanya luar biasa. Saya banyak merenung. Hidup masih seperti ini terus. Masih membuat orang tua menangis. Saya terus menata dan membenahi diri," tuturnya.

Indra dilaporkan ke polisi atas tuduhan tindak penganiayaan.

Cerita singkatnya bermula ketika surat perintah pengamanan itu datang. Sebagai petugas pemelihara ketertiban, ia bersama rekan-rekannya diminta bantuan untuk mengamankan jalannya pertandingan sepak bola di stadion Sultan Agung (SSA). Saat itu, yang sedang bertanding, Persiba Bantul kontra PPSM Magelang.

Laga berlangsung panas. Kericuhan antar suporter tak bisa dihindari. Indra bersama rekannya yang saat itu sedang bertugas, memakai seragam Satpol-PP mencoba melerai perkelahian. Namun nahas, bukannya berhenti. Rekan Indra justru diamuk massa.

"Teman saya dikeroyok dan saya melihat itu. Saya tidak tega. Saya berusaha membantu. Tapi justru saya ikutan diserang. Saya membalas untuk melindungi diri. Tapi saya dilaporkan polisi," ujar dia, mencoba menjelaskan. (*)

Masa itu baginya sudah berlalu. Keluar dari penjara, Indra menata dan membuka lembaran baru.

Sepanjang sisa hidup, ia mengaku bertekad menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

"Karena kita tidak pernah tahu. Kapan kita akan dipanggil oleh Tuhan," ucap dia, lirih. ( Tribunjogja.com | Ahmad Syarifudin )

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved