Bisnis

BPOM Imbau Masyarakat Jangan Mudah Percaya Hoaks tentang Obat dan Makanan

Pertanyaan terkait obat, kosmetik, obat tradisional, suplemen kesehatan dan pangan akan dijawab oleh petugas BBPOM di Yogyakarta melalui media tersebu

Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Ari Nugroho
Istimewa
Logo Badan POM. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan POM sebagai institusi yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan Obat dan Makanan, turut serta dalam memerangi hoaks alias berita bohong.

Pasalnya, melalui kecanggihan teknologi informasi, 1 pesan berantai akan bisa menyebar dengan cepat ke ribuan pengguna media social dalam hitungan detik.

Hoaks tentang obat dan makanan muncul karena beberapa hal, diantaranya adalah adanya persaingan tidak sehat antar pelaku usaha, sehingga ada upaya untuk menjatuhkan produk kompetitor, atau sengaja ingin menyesatkan orang dan membuat kondisi kericuhan di masyarakat.

BBPOM Yogyakarta Awasi Peredaran Kosmetik Ilegal

"Terhadap berita-berita yang tidak benar, Badan POM melakukan tindak lanjut berupa penelusuran, sampling, pengujian dan cek data base pendaftaran produk. Hal ini dimaksudkan untuk klarifikasi guna meluruskan berita yang salah, dan meredam keresahan yang mungkin terjadi di masyarakat," kata Etty Rusmawati, Staf Bidang Informasi dan Komunikasi BBPOM DIY, Rabu (4/9/2019).

Contoh-contoh hoaks yang telah diklarifikasi Badan POM. Pertama, 56 Siswa di Pekanbaru menyayat tangannya setelah mengkonsumsi minuman Suplemen Kesehatan, faktanya Siswa SMP menyayat tangan bukan karena minuman suplemen.

Minuman tersebut termasuk suplemen kesehatan yang telah terdaftar di BPOM RI dengan Nomor Izin Edar POM SD 132644341.  

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan tidak mengandung benzodiazepine.

Mukernas II di Bantul, Mafindo Bahas Persoalan Hoaks

Kedua, kopi tertentu diberitakan mengandung mesiu karena menyala saat diberi api.

Faktanya, kopi berbentuk serbuk, ringan dan berpartikel halus serta mengandung minyak dan memiliki kadar air yang rendah sehingga mudah terbakar dan menyala jika disulut api.

Ketiga, permen susu terdaftar Badan POM yang dikonsumsi anak-anak  mengandung narkoba.

Faktanya, 4 (empat) orang anak yang mengonsumsi permen yang sama, hanya 1 (satu) anak yang sakit karena demam. 

Permen susu yang diisukan mengandung narkoba tersebut telah terdaftar di Badan POM RI, dan hasil uji menunjukkan tidak mengandung narkoba dan zat adiktif (negatif).

Keempat, nasi dikepal bisa memantul diisukan mengandung plastik.

Faktanya, dari hasil pemeriksaan terhadap contoh beras, tidak ditemukan indikasi beras tersebut mengandung plastik. 

Tekstur nasi dipengaruhi komposisi komponen penyusun pati dalam butir beras, yaitu amilosa dan amilopektin.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved