Gunungkidul

Terdampak Kekeringan, Warga Barurturu Harus Beli Air Bersih Seharga Rp 350 per Tangki

Harga melambung tinggi mengingat medan yang dilalui sangatlah ekstrem.

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto Pangaribowo
Ngatijo saat memperlihatkan lokasi sumur galian yang debit airnya sangat sedikit, ia juga memperlihatkan lokasi Baturturu yang kering. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL -  Warga Dusun Baturturu, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari harus merogoh saku lebih dalam untuk membeli satu buah tangki air bersih berukuran 5 ribu liter.

Di daerah lainnya yang terdampak kekeringan seperti Kecamatan Semin, Ngawen, Purwosari, Rongkop harga rata-rata air bersih yang dijual dari tangki-tangki swasta seharga Rp 120-150 ribu.

Namun hal berbeda terjadi di Dusun Baturturu, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari harga jual air bersih pertangkinya mencapai Rp 350 ribu.

Harga melambung tinggi mengingat medan yang dilalui sangatlah ekstrem.

Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet

Jalan naik turun dan menikung curam, ditambah lagi jalan belum diaspal dan sempitnya jalan, membuat kendaraan tangki sulit untuk menjangkau dusun tersebut.

Dusun Baturturu terletak tepat di bawah Embung Batara Sriten.

Kondisi alam berbukit bukit membuat warga sekitarnya kesulitan mencari sumber air bersih sehingga mengandalkan dropping air baik itu dari swasta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), atau pihak kecamatan.

Seperti yang diutarakan oleh Ngatijo (37) yang merupakan warga Baturturu.

Ia menceritakan upaya warga untuk mencari sumber air bersih dengan menggali beberapa sumur kandas, lantaran air yang didapat tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Ngatijo mengatakan, ia bersama warga sudah habis belasan juta untuk membuat sebuah sumur yang hasilnya tidak sesuai dengan harapan mereka.

PLN Bantu 100 Tangki Air Bersih untuk Kekeringan di Gunungkidul

"Kami sudah mencoba membuat empat sumur di daerah yang terpisah namun airnya tidak banyak. Kira-kira satu sumur hanya bisa digunakan oleh satu Kepala Keluarga (KK)," ucapnya, saat ditemui Tribunjogja, Senin (2/9/2019).

Dirinya menceritakan sudah berbagai cara pembuatan sumur sudah dicoba dan hasilnya juga sama saja.

Mulai dari membuat sumur bor, hingga membuat sumur secara manual, air yang keluar tidak mampu mencukupi untuk kebutuhan warga.

"Kalau manual pakai alat-alat sederhana seperti linggis, pacul, dan godam. Kalau untuk kedalaman sumur bermacam-macam ada yang 6 meter, 8 meter, 11 meter. Untuk sumur bor bisa mencapai 90 meter," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved